Januari 29, 2010
Sore masih mengenangmu dalam diam
Tak seperti sore-sore yang kemarin, sore ini langit tampak cerah. Lanskap biru yang begitu menawan. Mengerjap ngerjap mataku memandang jauh ke balik awan itu. Dalam sunyi diam yang semakin dalam. Melamun sendiri di depan toko yang sepi pembeli. Merangkai-rangkai kisah yang sekiranya bisa terjadi kedepan.
Lantas kenapa justru ingatanku kembali teringat pada tadi malam. Ketika aku buka file file lama. Dan mataku terantuk begitu keras. Terjatuh pandangan mataku semakin dalam. Pada fotomu….yac fotomu yang berjilbab itu. Terlalu lebay kah aku? Sepertinya tidak. Hatiku benar jujur ini. Bahwa tersebab foto itulah aku jadi lupa daratan. Foto yang menghasilkan dua sajak indah bagiku itu. Foto yang paling legal aku dapatkan. Di banding foto-foto yang lain yang aku save diam-diam dari album Fbmu. Foto yang kau kirim karena permintaanku. Dan waktu itu kau sempatkan mencari-cari dalam album lamamu. Boleh aku menitikan airmata untuk mengenang ini semua. Aku haru, seharu waktu itu.
Karena foto itu dan ijinmu tentang posting dua sajakku itu, aku jadi buta. Aku jadi mabuk, aku jadi trance…! Melupakan segala kesepakatan awal. Aku jadi ingin merubah yang seumpama-seumpama ini jadi realita. Jadi kenyataan. Dengan memecah semua cermin di rumah sepertinya langkahku semakin tegap kala itu. Dan sepertinya langkah begitu terbuka lebar dengan segala senyum manismu. Tak pernah marah padaku. Berbahasa halus padaku. Ahh…sungguh ektasi yang demikian hebat aku kala itu. Aku terbang melayang pada mimpi indah sebuah taman penuh warna. Utopia…ahhh!
Tak pernah terbayangkan jika suatu saat aku harus terbangun. Dan malam hujan itulah aku benar-benar terbangun, mendapati tubuhku di depan cermin kamar tengah. Aku harus tahu diri. aku harus kembali ke awal langkah. Aku harus begeser sedikit keluar. Ataupun aku harus pergi jika itu maumu!
Padahal dulu aku seperti mendapat firasat, bahwa foto itu telah membawa tuah dari cinta pertamaku. Satu satunya yang pernah aku akui sebagi cinta. Walaupun akhirnya jadi luka. Cinta yang tak pernah aku tahu kapan hadirnya tapi begitu sulit terlupa. Dan aku merasa semua itu seperti berpindah tempat. Seperti mengalir masuk dalam aura kedua foto itu. Tapi tak ada yang perlu di persalahkan untuk kasus ini. Semua adalah kehendak yang tak bisa di tebak.
Mungkin memang aku harus pergi. Tapi masih ada yang aku tunggu. Aku ingin melihat kelahiran anakmu. Anak yang dulu disaat trance ku itu, ada sebuah harapan gila, bahwa aku adalah bapak dari anak itu. Ada keinginan yang demikian tak tahu diri bahwa anak itu akan memanggilku “Ayah”. Tapi sekarang sepertinya harapan itu musnah, tapi aku berusaha tidak sedih, dan akan tetap bahagia jika dia kelak memanggilku “Pakde”. Yacc…panggilan yang tak kalah manis bagiku…!
Kembali senja datang, dan aku masih mengenangmu dalam diam! Mungkin sampai anakmu lahir! Dan aku ingin sekali mengecup keningnya….!!!
Srandakan 29 january 2010
Januari 28, 2010
Catatan malam, menyapamu
Malam semakin larut dalam dingin, dan jarum jam menunjuk pukul 01 dini hari ketika aku pulang mancing. Malam yang sial tanpa hasil satupun. Pulang kerumah menuju dapur, membuat kopi dan menjarang Indomie. Menuju teras depan dan rebahan di lincak bambu dengan tak lupa rokok terselip di bibir. Ahh betapa nikmatnya hidup sendiri… wakakakak! Tak ada yang marah mo ngapain aja. Pulang jam berapapun tak ada yang ngatur. Mo makan apapun oke, bahkan Indomie yang cuma di jarangi pun terasa nikmat pada malam yang dingin gini. Jangan ngiri buat yang dah punya bini…kekekekeke!
Ahh sial rebahan dengan memiringkan kepala, memandang langit yang masih gelap. Ada mendung tipis selepas gerimis tadi. Kenapa dan terus saja kenapa pertayaan ini hadir, wajahmu masih saja terlukis di sana. Di balik mendung tipis itu. Bahkan mata kananku masih saja keduten sejak beberapa hari ini. Entah ini firasat apa, aku tak peduli dan tak mau mencari tahu. Bueeen..mbuh…!
Masih memandang langit diantara kepul rokok dan seruputan kopi. Dan masih saja wajahmu yang hadir di sana. Entah dengan cara apa aku melupakan ini. Kau jadi serupa hantu sekarang, tiba tiba hadir dan tiba tiba hilang. Tiba-tiba menari-nari dan tiba-tiba juga aku ingin menepisnya. Tapi apa untungnya juga untuk melupakanmu, menghapus wajahmu dari ingatan? Bukankah itu tak terlalu mengganggu? Bukankah itu hanya recent document yang tiba-tiba muncul saja? Sebab kau bagiku tetaplah sahabat yang terpaling.
Ingin kubelah matamu untuk melihat apakah rinduku masih ada di sana. Ingin aku kuliti kepalamu sampai lapisan terakhir untuk melihat tentang apa yang terlukis disana, apakah masih wajahku? Ingin ku telanjangi setelanjang telanjangnya hatimu, untuk melihat masihkah namaku tersimpan di sana? Sebelum aku benar-benar pergi berlalu. Dan menjadikanmu kenangan yang tak terlupa.
Tiba-tiba aku seperti tersengat lebah! Wah bangsaat lupa..indomieku! berlari aku ke dapur dan….! Indomie yang aku jarangi dalam bungkusnya itu, ketika aku tuang ke dalam mangkok telah sebesar cacing yang tadi jadi umpanku mancing! Haaah sial! Tetap saja aku sikat habis la wong laper! Ahh memakan mie jadi ingat kamu lagi saat itu ketika bilang baru saja buat mie tapi nggak jadi dimakan, jika mie ku ini pasti tambah ra kolu….kakakakkaka!
Aaha…selesai makan kulihat bulan sabit muncul di langit. Berarti tak akan lama lagi purnama. Semoga tak ada mendung saat itu. Ingin sekali aku bikin puisi tentang bulan purnama lagi. Seperti dulu, saat itu ketika bidadariku yang pertama belum berjumpa dengan Jaka tarubnya! Ahh sial malah jadi ingat yang lain, dasaar! Uhhh….menghabiskan sebatang rokok dan masuk kedalam pergi tidur! Mo mimpi indah syukur mo mimpi jelek monggo terserah wis…..
Srandakan 29 january 2010
Membacamu, mengenangmu bersama catatan itu
Siang di depan TV dengan sajian aksi demo menentang pemerintah, setidaknya aku dapatkan diksi baru disini “pemakzulan” . Masih tetap terdiam mencoba menyaring pada kisah-kisah yang telah terjadi. Membacamu pada kisah masa lalu. Tentang cerita-cerita itu. Hmmm
Aku terpancing untuk membuka file file lama! Tentang catatan yang aku tulis hasil dari percakapan kita. Saat kepercayaan kita sedang berada di puncaknya. Kau percaya aku 100% mungkin, untuk jadi tampungan ceritamu. Dan akupun percaya 100% bahwa semua cerita mu adalah kebenaran bukan fiksi. Dengan ijinmu aku tulis sebagian yang layak di tulis, dengan aku rangkai dengan sebatas apa imajiku mampu meraihnya, dengan kisah-kisahku tentunya. Ahh jadi malu..! Dan akhirnya lahir catatan tentang “ Cahaya 1-7 “ itu.
Mendung masih menggantung dibulan January reaksi alam yang tak bisa di tolak. Dan aku larut membaca kembali catatan- catatan ini. Semakin menipis aku mempercayai ini. Benarkah ini sebuah kebenaran. Lantas untuk apa jika ini bohong. Tak habis mengerti juga. Ahh semakin pusing aku. Dan semakin dalam menyelam larut dalam catatan ini. Mengenangmu saat bercengkerama dalam subuh yang tenang. Menjadi pendengar yang baik dan tak pernah protes. Mengagumimu yang tak pernah kenal kantuk. Cerita yang begitu mempesona bagiku yang belum pernah aku dengar dari siapapun.
Dalam jauhmu sekarang ini, masih mampukah aku mempercayai ini semua. Haruskah aku melupakan semua catatan ini. Tapi setidaknya ada tanda yang tertinggal setelah kepergianmu ini. Setidaknya dengan membaca catatan ini selukis wajahmu yang terbayang. Saat itu juga ketika kau tunjukan samping rumahmu yang penuh tanaman-tanaman hias. Yang kau bilang kau rawat dengan cintamu. Yang kalau nggak salah menjadi salah satu inspirasi catatan salah satu tentang “cahaya” itu.
Kembali membacamu pada kisah masa lalu,
Tentang cahaya itu #1
27 November 2009 jam 7:05 | Sunting Catatan | Hapus
Pernahkah kalian merasakan tentang hadirnya angin yang begitu lembut seolah bercahaya. tanpa pernah kamu ketahui dari mana arah datangnya, untuk apa dia datang,siapa yang mengirim dan mengarahkan. tapi dia datang dengan segala kesungguhnya, menyusup dari semua pori pori tubuh, ujung kaki sampai pucuk kepala. tak pernah mampu kamu tahan. andai dia punya warna…umpama hijau, maka hari itulah seluruh tubuhmu telah di hijaukan tanpa peduli apa itu warna favoritmu atau bukan. mulai hari itulah kau telah jadi sesuatu yang berbeda, sesuatu yang baru, sesuatu yang lebih bertenaga, sesuatu yang tak pernah lagi mampu kamu logika bahwa kamu telah berubah, bahwa kamu telah di giring, bahwa kamu siap melakukan apa saja tanpa kamu sadari bahwa kamu belum pernah melakukan itu.
Lalu jika suatu kali dia membawamu pada tebing yang begitu curam dan licin, maka kamupun tak lagi mampu menolak, karena dialah sang penguasa bagimu, dialah yang mengaturmu. Kamu hanya tinggal bagai kerbau di cocok hidung, menurut dan berjalan sesuai arah yang diinginkannya. Bukan berarti kamu akan selamat dengan perlindungannya, amat sangat mungkin kamu akan tergelincir dan jatuh dalam curamnya jurang itu. tercabik, tersayat dengan puluhan luka mungkin. Hanya kedua kaki dan tanganmu yang mampu menyelamatkan dirimu bukan dia. Dan juga apa yang ada di kepalamu!
Pada waktu yang lain mungkin sedang dalam pucuk bahagiamu di teras rumah saat hujan lebat datang, bercengkerama dengan mimpi khayal. Tak perlu kamu lari menghindar karena jelas nggak mungkin, jika kamu di ajak keluar dan basah kuyub akan hujan itu. menggigil tanpa apapun dalam tubuhmu dan dia hanya tersenyum di bawah naungan kepalamu. dan jika kamu masih mampu mendengar dalam gigilmu, dia kan berbisik ” inilah ujian bagimu, inilah rasa lain dari bahagia itu”.
Tapi jika kamu adalah sosok dengan garis tangan yang memukau,dengan bintang keberuntungan diseluruh tubuh, tak perlu mungkin kamu lewati semua itu. Dia mungkin telah begitu percaya padamu, dan membawa pada taman penuh bunga indah, utopia yang terealisasi, puncak dari segala ingin, akan kelayakan dari sudut pandang umum. Ahh betapa indahnya itu, betapa semua langkah terasa ringan, tak lagi perlu bawa perban dan juga tisu.
Bolehkah aku menangis jika ternyata aku bukan orang seperti ini?
Srandakan, 27 november 2009
( catatan hasil dari percakapan malam takbir dengan seorang teman diramu dengan perenungan diri pada kisah masa lalu)
Tentang cahaya itu #2
29 November 2009 jam 4:48 | Sunting Catatan | Hapus
Kembali kuingin bicara tentang yang kemarin, tentang sebatang pohon di depan rumah, betapa kokoh dan kuat walaupun angin kadang kala begitu kencang menerpanya, lihatlah jika kau mampu, tentang akar yang ada dibawah, betapa rajin dia bekerja menelusup ke dalam dan semakin dalam, demi sepotong roti mentah buat menu masakan daun daun di atas sana, lihatlah senyum jujur daun itu walaupun kadang kala bingkisan kiriman akar tak seperti yang dia harapkan. ketika aku bertanya pada daun dan juga akar tentang apa yang menjadi rahasia semangat mereka ” kami hanya ingin batang pohonku semakin tinggi dan tinggi’, begitu kata mereka berbarengan, lihatlah semakin rajin akar mencari makan semakin tinggi pohon itu dan semakin lebat daunnya, betapa daun tak pernah melupakan jasa akar, dia relakan selembar demi selembar jatuh, agar akar tak lagi susah mencari makan selagi lelah, betapa daun telah bersyukur telah melihat dunia semakin jelas saat batang menjulang. coba lihatlah apa yang dilakukan akar, memperkuat diri agar pohon itu tidak bergoyang apalagi tumbang saat badai datang, cukup dia mendapat bahagia dari tersenyumnya daun ketika melihat dunia-dunia baru selepas pohon itu bertambah tinggi, akarpun merasa semakin teduh.
aku mencoba bertanya pada pohon tetangganya, inilah jawaban itu “aku melihat ada cahaya yang begitu lembut masuk pada pori-pori pohon itu selagi masih tunas”, cahaya….?….ohh.
pernahkah kalian mengalami ketika cahaya itu masuk rongga kepalamu menelusup ke semua aliran darah. dan kau melihat seseorang didepanmu begitu sempurna, tak lagi teringat tentang bekas luka di pipi yang tertinggal seolah noktah hitam yang tak lagi mampu di hapus, juga bau anyir tubuhnya karena sejak beberapa hari tak mandi kehabisan uang buat beli sabun, tentang kaki yang yang pecah-pecah tak beralas, tapi hari itu ketika cahaya telah masuk dan menguasai, tak lagi semua itu terlihat di matamu, semua yang kau lihat adalah kesempurnaan yang terpancar, satu satunya yang ingin kau datangi, tak ada yang lain yang terlihat kecuali titik itu menggiring langkahmu, kaupun jadi lupa jika banyak hal yang sebenarnya merepotkanmu, mungkin saja kau masih bergelut dengan lumpur yang begitu pekat, mungkin juga kakimu sedang pincang, tapi sungguh kau lupa, kau buta, kau terhipnotis, kau tetap berjalan ke arahnya tanpa peduli “who I am?”,
lalu apa yang terjadi jika tanganmu hampir meraihnya tapi tiba tiba ada tangan lain yang mendahului, apakah kamu akan menangis, apakah kamu kan mengumpat dengan ribuan nama nama hewan, ataukah kamu akan membenci dengan tiba tiba dirinya, menghapus semua catatan yang selama ini tersimpan di teras kepalamu, mengumpat pada tangan baru yang meraih itu, mengumpatnya tak kenal lelah dengan ribuan doa doa busuk baginya, menulis di setiap batang pohon yang kamu lalui tentang keburukan, mempromosikan pada semua orang bahwa kamulah yang benar dan merekalah yang salah,
lalu jika memang itu, dimanakah kesungguhanmu itu? kesungguhan tentang cahaya yang kau sebut sedang menghampirimu, tidakkah itu palsu?
demi dirimu ataukah demi dirinya? itulah berarti kamu hanya memikirkan dirimu..dirimu..dan..dirimu…..,
kenapa…kenapa…kenapa….
mengapa…mengapa….mengapa….
Srandakan, 29 november 2009
(terinspirasi dari yang memberi diksi ” mengapa..mengapa..mengapa”, makasih banget buat dia…! )
Tentang Cahaya itu#3
06 Desember 2009 jam 4:22 | Sunting Catatan | Hapus
;episode ndleming/mencoba kembali menulis prosa
menunggu cerahnya pagi betapa menyiksa jika malam terasa panjang tiap detak jarum jam seolah terdengar dan memancing untuk menghitung detik demi detik, tapi apa yang bisa kamu lakukan jika semua memang musti menunggu, boleh kau bilang memutar jarum jam, tapi apa yang berguna jika bulan tetap terpasung, menunggu jawab tentang cahaya itu, cahaya yang sempat hadir waktu itu, ketika kumisku masih tipis dan belum selebat sekarang, ketika jalan masih begitu lengang dan tak seramai sekarang, ketika degup jantung masih membahana tak sehalus sekarang, ketika…ahh terlalu banyak terlalu nyinyir jika aku tulis semua,tapi cahaya itu nyata, dia sungguh hadir waktu itu, tapi kerentaanku lah yang menahanya, menyimpannya rapat-rapat dalam alamari hati, ” tapakkan kakimu ketanah kawan…apa modalmu?”, begitu suara lirih yang kutenun jadi rantai pengikat kaki untuk diam dan tak melangkah mendekat, dan mencoba mengalihkan pada yang lain,
tapi apa kau mampu jika cahaya itu tak juga beranjak, tak akan ada yang mampu mengaturnya, mendatangkannya padamu dengan suap milyaran sekalipun, mengusirnya dengan ribuan senjata, tidak…tidak mungkin, dia akan tetap diam bersemayam, menunggu inginnya sendiri,mungkin dia masih merasa nyaman meringkuk di sana, mungkin suatu saat ingin menari, tapi mungkin suatu saat justru ingin berlalu,tak ada yang tahu, hanya cahaya itu sendiri yang tahu,
sayang mulutku tak lagi senyaring dulu, tak sejalang ketika itu, saat degup jantung masih kencang bertalu-talu, andai waktu itu mungkin akan aku teriakan di bibir kupingnya, begini :
” teruslah berjalan pada ramai hari-harimu, tak perlu ragu akan terik dan hujan , akulah payung dimana bayang-bayangmu pun ikut terteduhkan “,
sayang akupun tak lagi bernyali laga seperti dulu, sekuat dulu, terlalu lembut aku sekarang, andai waktu itu ketika otot-ototku baru mekar mekarnya, mungkin ketika harimau itu hampir menerkamnya aku telah berdiri dua senti didepannya, dan teriak begini :
” tikamlah aku dengan kukumu, jika kau inginkan dia, tak pernah aku takut akan kematian, sebab ajalku bukan tergantung pada kuku-kuku tajammu, tapi masa aktivku sebagai manusia yang telah tertulis bersama tanggal lahirku lah yang menentukan, lihatlah betapa di pucuk cemara itu ada kepalan tangan yang mendukungku “,
senja tetaplah senja tak mungkin berganti pagi, tapi tahukah kau jika selepas malam yang begitu pekat, kelak akan kembali hadir pagi, pagi yang baru, bukan pagi yang kemarin, pagi yang mungkin lebih cerah dengan warna-warna pelangi, memang mentari yang merekah itu tetap sama, tapi cobalah rasakan lembutnya cahaya yang masuk ke pori pori, tak kau rasakan kah bedanya, itulah cahaya baru pada hari baru, yang hadir selepas simpul-simpul kejujuran itu terlepas, memendar ke relung relung jiwa,
( kayaknya sudah terlalu panjang…ini dulu ya…tahan napas sik…..to be continue)
Srandakan, 06 desember 2009
Tentang cahaya itu #4
06 Desember 2009 jam 12:50 | Sunting Catatan | Hapus
;edisi ndleming/melanjutkan balajar menulis prosa
Suatu sore dalam kamar pengap tanpa ventilasi dan cahaya. Terdiam tanpa teman. Terduduk pilu dalam mimpi yang semakin buyar. Berharap pada harapan akan cahaya yang mencarinya. Dalam diamku yang tak lagi punya nyali buat sekedar permohonanan. Berharap akan di temukannya tongkat Musa, diantara sepatah dua patah doa yang begitu sulit lagi buat di eja.
Ataupun akan kapal Nuh buat berlayar meninggalkan bah, yang tak lagi mampu aku hadapi dalam renta yang terasa kian rapuh. Tak ada lagi mimpi tentang orang suci dalam benakku, yang kian berbelatung. Dalam busuk yang tak lagi mampu aku ramu kembali,selagi segala menyerang dikala senja makin lindap.
Tak hanya aku, mungkin kau juga mereka,
ketika terduduk pilu di palung sunyi,
meretas mimpi,
melongok langit,
cobalah kembali mengenang masa itu
pasti, kau merasa seolah bisa menghitung bintang dilangit. Seolah kamu bisa membedakan mana yang dekat mana yang jauh, walau sesungguhnya jawabannya sama, jauh dan tak terhitung.
tapi pernahkah kau terdorong keinginan untuk melakukan itu? Menghitung bintang seolah kau mampu, tersebab suatu kekuatan yang tak kamu ketahui dari mana datangnya, ketidak mungkinan yang seolah mungkin karena dorongannya, uuh…
itulah kisah yang sempat memicu tawa dan juga tangis, tentang masa itu, ketika aku mencoba menyembuhkan rindu yang lama aku pasung dalam kamar pengap putus asa, tentang dunia tulis menulis,
Facebook oh facebook memberiku angin segar seolah pintu masuk yang amat sangat terbuka, dan sungguh aku mendapatkan tawa itu, melupakan tangis yang telah aku anggap bosan, hari itu satu demi satu aku sapa mereka,dengan catatan catatan ringan, dengan puisi-puisi gombal, berbagi tawa berbagi beranda, dan sampailah aku pada beranda yang lama aku incar, bertegur sapa sekenanya seolah teman yang lama tak berjumpa,
07 Mei jam 4:43
seep…dengan senang hati…mari belajar bareng……salam kenal juga
07 Mei jam 5:13
jangan pernah putus asa pada apapun…kenapa sampai itu hanya tersimpan di komputer? bagikanlah….coba di share ke teman-teman. saya juga masih belajar kok ![]()
dalam menulis saya berusaha untuk membebaskan diri dari segala teori yang ada, meski sebebas apapun itu tetaplah kita memiliki barometer tersendiri bukan? so…mari kita terus belajar
kami menjadi teman, kami menjadi sahabat, walau hanya lewat tulisan-tulisan, tapi karena terlampau tingginya dia terbang, terlampau kemilaunya sayap yang dia kenakan, tak bisa setiap saat berbagi tulisan, tapi begitu banyaknya teman yang dia miliki, sedikit membuat terhibur, mulailah canda tawa bergeser pada penghuni lain rumah itu, hanya sesekali saja berjumpa dengan dia, itupun lebih dari cukup bagiku, karena sesungguhnya cahaya yang aku tunggu telah aku dapatkan bersama tiap catatan yang dia lahirkan, motivasi baru semangat baru tentang mimpi masalalu,
antara sadar dan tidak sadar, semua catatan yang lahir dari pena lapukku, terjangkiti virusnya huruf demi huruf, seolah semua itu lahir dari tungku dan tembikar yang sama, betapa aku malu. betapa aku takut, ahh plagiat, tapi semua tak bisa aku hindari, inilah yang aku mampu dan bisa, semua menjadi begitu asin karena garamnya, kadang begitu manis karena gulanya, ahh…
dia bukanlah guru tapi dialah suhu, dari kelenteng di pucuk sana, mengirimkan selembar demi selembar catatan bagiku yang di ngarai,
( inilah kartuku yang aku buka…terserah apa vonis kalian)
Srandakan, 7 desember 2009
Tentang cahaya itu #5
08 Desember 2009 jam 2:34 | Sunting Catatan | Hapus
;edisi belajar menulis prosa liris / anggap aja lanjutan Chapter 3
Pernahkah kau merasa begitu bangsat, begitu bajingan dimata beberapa orang yang pernah hadir dalam hidupmu. Merasa begitu rendah dimatanya. Betapa kau adalah anjing yang tak layak buat didekatinya. Kau adalah sekumpulan nanah-nanah menjijikan yang musti mereka tutup hidung, bahkan juga mata. inilah kisah itu;
Suatu hari…ah betapa kuno aku memulai cerita ini, tapi tak juga kutemukan cara lain, memang sesungguhnya itu yang terjadi. Jika kau di datangi seorang yang begitu tinggi nilainya di banding kau yang petani, dia hadir menyapamu ketika kau mencangkul di sawah, memuji semua yang kau tanam, dia bilang kau petani yang berbakat, tanamanmu hijau dan subur. Tidakkah kau bahagia? Bukankah kepalamu jadi begitu besar? Begitu tersanjung dan seolah ada yang merebut lelah dan mengeringkan setiap tetes keringatmu.
Tapi apa yang akan kau lakukan, jika dia ternyata tinggal di istananya yang jauh di seberang laut? Adakah rasa takut di hatimu? Jika suatu saat kau di ajaknya pergi, membantunya bercocok tanam disana,meninggalkan sawah juga gubuk yang begitu kau cintai? Sebab amat tidak mungkin, kau pindah beserta sawahmu, juga tidak mungkin kau tinggalkan ayah dan ibumu dalam rentanya.
Lalu tindakan bodoh yang kau lakukan adalah sembunyi dan sembunyi, ketika dia datang. Karena kau hanya takut mengatakan “tidak” jika benar apa yang kau pikir bahwa dia akan mengajakmu pergi…
Salahkah dia jika mengataimu sebagai bangsat tak tahu balas budi, menyebutmu sebagai pengkhianat yang menjijikan. Salahkah juga kau di matanya jika kau tetap diam dan membiarkan umpatan itu melegakannya. Salahkah kau jika masih ingin menyapanya walau jauh disana, di istananya di seberang laut dari kau yang begitu kecil tak terlihat di pinggir pantai? Sebagai pengakuan bahwa dia tetap lah sahabat di matamu.
Benarkah kau jujur mengatakan itu? Tidakkah itu tak seluruhnya benar? Sebab ada yang lebih sebagai alasan paling nyata, tentang sosok lain yang pernah hadir padamu. Bukan dia yang mendatangimu, kau lah yang berkunjung ke tempatnya. Melihat dia bercocok tanam dengan segala yang terlihat luar biasa di matamu, seolah ada sebuah mimpi utopis mengajaknya tinggal di gubukmu, bersama bercocok tanam. Ataupun tinggal di istananya yang begitu lebih dekat, hanya di seberang sungai. Tapi tidakkah keinginan ini juga begitu bangsat, jika kau mau menengok tentang sawahmu yang tak sebanding dengan hektaran tanaman beraneka yang dia miliki? Tidakkah kau egois ingin menumpang enak dari sengsaranya hidupmu? Tidakkah ini lebih keji dibanding perompak? Lalu perlukah kau marah jika ribuan mulut mencercamu sebagai laknat ataupun bajingan?
Lalu apa musti kau lakukan jika mimpi besar itu seolah tersenyum dan mengulurkan diri. Duduk di sampingmu ketika keringat masih membasah dan cangkulmu masih kotor. Padahal di tempatnya waktu itu kau tak mungkin bisa sedekat ini. Sekarang kau seolah bernafas dari kumpulan oksigen yang sama, begitu dekat dan teramat dekat. Lantas bolehkah kau dengan arogan mengatakan bahwa dia telah dirasuki cahaya itu, cahaya yang mengarah padamu, tidakkah kau pikir ini hanyalah rasa besar kepalamu, tentang dirimu yang sungguh-sungguh tak begitu pantas untuknya.
Mungkin justru kau akan semakin gombal dan mengatakan bahwa kau juga punya cahaya untuknya. Dan ribuan orang tak mempercayaimu, dan tetap pada sikap bahwa kau adalah perompak baginya. Bahkan kau akan di tampar sebagai bangsat tak tahu diri.
Lantas dengan cara apa musti kau jelaskan pada mereka? Menunggu airmata yang menetes dari pelupukmu berubah jadi darah, sekedar simbol bahwa merah adalah hati dan apa yang kau bilang adalah sungguh-sungguh?
Malam masih begitu pekat dengan ribuan bintang terlihat malu malu
menunggu pagi memberi cerah
sampai entah….
Srandakan, 8 desember 2009
Tentang cahaya itu #6
09 Desember 2009 jam 1:43 | Sunting Catatan | Hapus
;edisi belajar menulis prosa liris
Kau yang merasa selalu kehilangan dan kalah. Pernahkah kau benar-benar merasa membawa beban yang begitu berat , susah payah kau jinjing dengan segala tenaga yang kau mampu. Tapi ketika kau sampai di depan pintu, betapa terkunci rapat dengan ribuan penjaga menghadangmu.
Walaupun ribuan doa mengiringi langkahmu, kau pun tetap merasa tak mampu.
Ada dua kemungkinan jelas, satu kau tetap berdiri disitu dengan harapan belas kasihnya menyilahkan kau masuk dan yang kedua kau berlalu pergi mencari pintu yang lain.
Dan hari itu begitu saja memilih melangkah menuju pintu kedua. Kau jinjing kopor berat itu kembali dengan segala susah-payahmu. Terlampau lelah kau ternyata. Tak semua barangmu bisa kau bawa, ataupun mungkin memang sengaja kau tinggalkan buat penghuni rumah itu. Seolah kau tak ingin berlalu seluruhnya.
Lalu kau mengapung terombang-ambing diantara pertanyaan-pertayaan yang mengejarmu. Dimanakah rasa setiamu pada prinsip yang kau ucapkan pada pintu kamarmu. Saat kau memulai langkah pertama menuju rumah itu, pada catatan-catatan rencana yang kau tulis dimeja sebelum semua barang masuk kopor, apakah kau hanya akan bilang :
“hanya coba-coba mencari hiburan sebab pintu utama jelas tertutup untukku, sebab sudah terlalu lelah aku berjalan dan segera pingin istirahat dengan teduh.”
Teramat remeh itukah alasanmu? Sepertinya tidak? Mungkin kau hanya menunggu waktu yang tepat sebab pintu mereka berdekatan dan terlalu mudah bagimu mengawasi. Terlalu sepele jika kau melupakan pintu pertama, yang jelas telah kau impikan sejak kopormu belum kau beli.
Lantas apa yang kau lakukan pada pilihan darurat ini, benarkah kau dapatkan keteduhan itu? Terlalu banyak mulut kau jika bilang “ya”. Mungkin benar kau sedikit terhibur dengan kepura-puraanmu. Sebab jelas lelahmu terobati dari perjalanan yang begitu jauh. Tapi apakah rasa yang dulu kau impikan itu hadir?
Mungkin “ya” jika kau merasa punya teman dari kesendirian pilu yang terlampau panjang. Ataupun kau merasa perlu merevisi, bahwa apa yang selama ini kau impikan adalah kemustahilan. Bahwa kau ingin realistis tentang hari yang semakin senja. Yang mungkin akan segera turun hujan.
Tapi jelas “tidak” jika kau mau membuka catatan tentang apa yang ingin kau raih dari langkahmu meninggalkan pintu rumahmu. Bahwa pintu yang pertama itulah paling dari yang terpaling bagi kompas perjalananmu selama ini.
Bahagiakah kau di pintu kedua ini bersamanya? Saat tawamu begitu terbahak, padahal kau hanyalah di jadikan penghibur bagi waktu senggangnya. Tak pernahkah kau sadar bahwa harapanmu tentang kepemilikannya itu tak akan pernah lahir. Sebab dikala kau membawa lem yang begitu rekat bagimu, justru dia bawa api merenggangkannya. Jadi bukan suatu yang salah jika kau sering mengintip tentang pintu yang pertama.
Sebegitu bahagiakah kau ketika kesempatan masuk pintu pertama terwujud? Ketika si pemilik mengulurkan tangan memberimu waktu bercakap di kamar tengah. Salahkah kau jika mulai mengesampingkan pintu yang kedua dan kembali bermimpi tentang pintu yang pertama.
Tak banyak yang kau tuntut sesungguhnya, dari bahagia yang ingin kau pinang bersama penghuni pintu pertama. Kau hanya ingin dia membetulkan cara memegang pensil yang benar. Menyorongkan penghapus ketika dia bilang terlalu tebal arsiran yang kau coretkan. Sesuatu yang tak mungkin kamu dapatkan dari penghuni pintu kedua.
Walaupun sesungguhnya jika kau mau jujur, ada keinginan lebih menyertainya. Puncak mimpi yang mungkin dengan seluruh kesadaranmu terlampau sulit kau ubah jadi nyata.
Terlalu sombongkah kau? Jika kau bilang bahwa ini adalah buah yang kau petik dari pohon kesabaranmu selama ini. Tidakkah kau pikir bahwa ini hanyalah kebetulan semata dari rasa kasihannya melihatmu terlunta. Ataukah kau akan menjadi begitu naïf dengan bilang pada semua orang tentang kekuatan lembut sepercik cahaya. Cahaya yang merasukinya untuk sekedar menyapa, mengetuk pintumu. Lalu dengan segala mulut gombalmu, kau akan berkhotbah pada mereka tentang devinisi cahaya. Bahwa cahaya tak pernah mempertimbangkan apapun untuk menuntun hati seseorang pada seseorang yang lain sesuai keinginananya. Kalau itu dianggapnya perlu bagi sang cahaya, tak ada yang tak mungkin. Begitukah?
Kalau itu yang kau teriakan, bolehkah aku bertanya padamu? “Berapa hargamu…..?” Sampai dia mau mendatangimu. Betapa supernya besar kepalamu hari ini. Seungguhnya kau tak perlu membual apapun untuk kasus seperti ini. Cukup kau diam, diam dan diam, nikmati saja setiap lagu yang terlantun.
Malam-malam yang selalu melarut, tak hanya pada gelap tapi
Larik larik huruf yang semakin panjang
Misteri cahaya yang tersembunyi di balik misteri
…………………….
( moga masih mampu buat nulis seri berikutnya……..)
Srandakan 9 desember 2009
Tentang cahaya itu #7
12 Desember 2009 jam 11:26 | Sunting Catatan | Hapus
;Dia bicara untuk kau, dia juga mereka
Kalian tak akan tahu dan tak akan pernah jadi tahu. Kalian tak akan mengerti dan tak akan pernah jadi mengerti. Tentang aku yang tetap menjadi aku tak akan pernah jadi yang lain. Meski pada akhirnya yang selama ini kau sangkakan cahaya akan berubah bara padamu.
Mungkin kalian bisa melihatku dan mengatakan bahwa itu adalah aku. Tapi sungguh, kalian tidak melihat aku. Kalian bilang pernah melihatku tertawa, melihatku mengumpat. Kalian bohong dan sungguh sungguh bualan. Bahkan jika kau bilang pernah sakit hati karena aku. Kembali kau sedang memfitnahku. Karena tak pernah aku punya niat sekejam itu. Kau merasa sakit karena pengaruh dari dirimu sendiri yang merasuk dalam diriku. Dan itu bukan perbuatanku. Tapi dirimulah yang melakukan dan mempengaruhiku.
Kau yang terlolong mungkin mengatakan betapa eloknya diriku, betapa mempesona, betapa sempurna. Sehingga timbul rasa untuk memilikiku. Rasa iri untuk menjadi seperti aku. Sungguh, kau salah besar! Apa yang kau lihat hanyalah bungkus. Kalian tak sungguh-sungguh melihatku yang aku. Betapa pedih perih menggelinjang tiap hari. Betapa nelangsa diam dan tak ada yang mampu mengobatiku. Kau, dia juga mereka tak akan pernah mampu menjadi aku. Aku yang sunguh-sungguh sakit tanpa obat yang tersedia, selain menahan dan terus menahan. Jika kau bilang mampu menjadi obat bagi sakitku, tutup mulutmu dan kembalilah tidur. Aku tak akan mampu di sembuhkan oleh siapapun. Hanya aku yang mampu menyembuhkan diriku.
Lantas jika kau bertanya kapan aku sembuh. Kelak jika aku telah menemukan yang lain dalam aku. Aku yang bisa mengerti aku dan aku yang sungguh-sungguh aku butuhkan. Jadi jelas apa yang aku butuhkan. Bukan kau, dia atau mereka tapi aku…aku yang lain. Aku yang belum kutemukan sampai hari ini. Aku yang mungkin belum terlahir. Aku yang mungkin masih tersesat di jalan. Tapi sungguh, itulah yang aku tunggu sampai hari ini. Untuk mengajariku tertawa yang sungguh sungguh tertawa, bukan tawa palsuku selama ini. Untuk mengajariku merayu secara benar bukan rayuan gombalku selama ini.
Inilah aku dan sekali lagi aku bilang, kalian tak akan pernah melihatku sebagai aku yang sesungguhnya. Jika kau bertanya padaku, akupun akan bilang bahwa aku belum seutuhnya mengenal aku. Entah apa sesungguhnya diriku. Entah apa yang diinginkan diriku. Aku hanya menunggu sampai tanda itu datang. Tentang siapa sesungguhnya diriku. Tentang apa yang di butuhkan diriku. Agar kau lihat sesungguhnya yang cahaya dalam aku.
Srandakan 12 desember 2009
( Inspirasi dari percakapan selepas subuh )
Itulah catatan-catatan itu, yang telah terposting di Facebook! Benarkah itu semua kebenaran untuk di percayai…..??? Sebuah harapan besar tentunya jika itu sungguh kebenaran. Tapi….tidakkah aku sedang berbohong dan kau pun berbohong..??? Sebuah pertayaan yang wajar untuk hadir hari ini. Selepas hujan yang begitu deras. Semoga sehabis hujan reda di balik rekahan mendung masih mau sang mentari menyapa dengan lembut cahayanya memberi terang….!
Ahhh…mbuh lah….mumet aku…..!!
Januari 27, 2010
Kembali membacamu pada sore
Sore menjelang dengan redup langit menyembunyikan mentari. Menikmati kosong hati tentang sesuatu yang ingin segera berubah dan berganti. Menjadi terasa melo dengan lagu sendu milik Anang “ separuh jiwaku pergi” dan juga milik Ari lasso “ aku harus pergi “. Terasa semakin teriris jiwa yang telah lama merapuh. Cuma keberuntungan masih aku punyai dengan kemampuan acting yang lumayan baik. Tak akan ada yang tahu, sebab aku masih mampu tertawa terbahak-bahak bahkan terpingkal-pingkal bersama teman. Tapi tidak pada sore ini. Aku merasakan rasa yang berbeda. Aku merasakan mata kananku tak henti hentinya keduten yang begitu cepat. Reaksi alam yang penuh tanda tanya. Mungkinkah kau sedang sedih….mungkinkah kau kangen? Aah…kenapa aku jadi GR lagi? nggak lah…nggak mungkin, aku bukan siapa-siapa selama ini. Hanyalah pengawal bagi langkahmu tak lebih. Telah cukup keras aku berusaha mengempiskan kepalaku yang ternyata selama ini begitu besar melembung. Nggak…nggak lagi…nggak mau aku GR lagi…nggak mau aku sok tahu lagi! cukuplah sekali itu rasa sakit aku rasakan. Aku ingin kembali berpijak pada tanah. Kembali jadi petani di sawah. Jadi gelandangan. Bosan sudah aku jadi seolah-olah.
Disini masih mampu aku ingat saat kau duduk dengan lutut kau naikan dengan sesekali rokok hitam kau raih denga tangan kananmu. Dan tersenyum simpul di balik bibir hitammu. Kau bilang sakit perut kali itu dan berlari kebelakang. Dan aku hanya mampu melihat rak buku yang bertumpuk. Dan kau kembali dengan tarian yang katanya kau mampu melakukan. Aku terbahak saat kau mencoba menari tapi malah sakit perutmu kambuh. Ahh mengenangmu hanya membuka luka. Tak lagi aku dapatkan itu semua belakangan ini. Kau pergi dan akupun menjauh. Kesepakatan yang adil memang. Dan aku pun berharap tak terjadi apapun padamu. Aku tak ingin kau merasa bersalah padaku. Karena memang sungguh aku yang salah. Terlampau terlena pada kesepakatan awal untuk memainkan opera. Terlampau asyik dan menjiwai peran. Hingga lupa kalau saatnya turunpanggung telah sampai. Hingga GR ku justru makin tak ketulungan. Memang enak menjadi seolah-olah. Memang manis menjadi seumpama-seumpama. Sampai tidak sadar jika sesungguhnya aku sedang mengasah pedang buat memancung kepalaku kelak.
Sore semakin dalam masuk pada senja yang siap menerkam dengan gelapnya. Lampu lampu merkuri mulai nyala satu persatu. Ahh malam kembali datang. Jika teman-teman pada datang mengajakku mancing mungkin aku akan segera menutup toko. Sebab tak lagi mampu aku ciptakan sajak cinta lagi sekarang. Sebuah kesedihan karena tak lagi punya hidangan buat menyapa teman –teman. Mungkin mereka merasa kehilangan, tapi apakah aku juga tak lebih kehilangan. Tak tega aku jika harus mencipta sajak kesedihan. Biarlah semua waktu terus berjalan menunggu sampai pada tempat pemberhentian yang pasti telah di gariskan. Entah pada kelokan mana. Tapi aku tak mau berhenti berjalan. Tetap merasa yakin di kelokan depan sana aku akan akan dapatkan peneduh itu.
Senja telah datang mengganti sore yang lelah. Tak ada mendung. Langit cerah. Semoga ini pertanda kau baik-baik aja disana dengan mimpi-mimpimu. Teruskanlah pintalanmu aku tetap menunggu hasilnya walaupun mungkin hanya dari jauh aku mampu bertepuk tangan, tapi sepertinya itu sudah cukup sebagai tanda tak pernah ada permusuhan antara kita.
Srandakan 27 january 2010
Siang yang terik teringat Alyosha
Pagi tak lagi nyaman dan mulai beringsut pergi terganti siang yang cukup terik. Sepertinya mendung mulai berlalu berganti terang yang tak kalah menyiksa. Memandang ketengah bundaran polisi-polisi mata duiten yang begitu hijau warna matanya begitu melihat seorang anak sekolah tak memakai helm. Ahh…menu makan siang mungkin begitu batinnya bersama bunyi peluit. Ahh kau tak punya nyali Bro..! Andai kau tak berhenti dan terus berlalu polisi itu tak akan mampu mengejarmu ataupun malas. Dia Cuma untung-untungan aja mencoba nyalimu. Dan dia telah beruntung pagi ini dengan memakan kesialanmu. Dan mungkin beberapa saat lagi dia akan semakin kenyang dengan memakan kesialan-kesialan orang-orang yang sedang lupa atau terlupa karena keadaan.
Dan siang semakin bising membuat nanar kepala,. Mencoba berwisata dalam imajinasi liar. Menerawang pada rute-rute depan. Pada pelosok-pelosok yang belum terjangkau. Tapi aku justru tersesat pada masa lalu. Pada masa yang masih juga tak bisa aku lupakan. Dan akhirnya aku beristirahat pada Alyosha. Yacc..nggak tahu kenapa aku justru kembali teringat pada ketokohannya. Tokoh fiksi ciptaan Leo Tolstoy ini amat tertambat di hatiku cukup lama. Tentang kejujurannya sebagai lelaki jelek. Lelaki bungkuk yang tak pernah merasa iri pada adiknya yang lebih ganteng dan gagah hingga bisa jadi serdadu. Alyosha jauh dari apa itu lelaki yang penuh pesona. Dia terpakai karena kesantunannya. Kepatuhannya melibihi robot. Pada orang tua dan juga majikan. Dia korbannkan hidupnya untuk mereka sebagai jawaban bahwa mereka telah menghargainya walaupun dia jelek. Apapun akan di lakukan Alyhosa pada detik ketika suara panggilan telah sampai huruf terakhir namanya. Jangan heran jika ketika sedang sibuk dia seperti seterika. Semua panggilan dia jawab “Ya”. Dia akan terburu untuk menyelesaikan pekerjaan pertama dan berlanjut dengan yang kedua begitu seterusnya.
Dan ingatanku masih terus berlanjut menari-nari tentang kisah Alyosha. Dia akhirnya belajar tentang cinta dari Ustinya, pembantu rumah tangga di mana dia bekerja. Wanita itu amat kagum akan kejujuran pribadi dan kepatuhan sosok Alyosha. Dan Alyosha dengan senang hati membalas cinta itu dan memberanikan diri bilang pada ayahnya untuk melamarnya. Tapi akhirnya dengan segala pertimbangan bahwa jika Alyosha menikah maka mereka tak lagi bisa dapat uang dari kerja Alyosha, maka orang tuanya melarang dengan kalimat lain bahwa “ seorang pembantu tak pantas untukmu anakku!” seperti biasa walaupun dia sedih luar biasa tapi Alyosha tak berani membantah dan membatalkan niat melamar Ustinya. Dengan berurai airmata ustinya meratapi nasibnya, pengorbanan dirinya menerima Alyosha yang jelek ternyata tak mendapat restu dari langit.
Dan sampailah cerita itu pada ending. Hujan salju begitu deras di Rusia, cerobong asap tersumpal, cukup sekali bentak saja majikan telah menggerakan kaki Alyosha untuk naik ke genteng. Tak ada yang bisa menebak kapan ajal tiba. Dan akhirnya Alyosha terpeleset jatuh bergulung. Dia sekarat dan sepertinya sudah tak tertolong lagi, terlalu parah luka-lukanya. Semua orang merubung dan merasa kehilangan. Demikian juga Ustinya, yang mendapat kalimat terakhir dari Alyosha, “ Benarkan kataku, bahwa ayahku tidak keliru melarangku menikahimu. Bukankah dengan tidak menikah begini kita dapatkan kebaikan, kau tidak jadi janda, dan akupun akan tenang menjemput mautku sebentar lagi!”
Siang semakin terik. Dan aku masih terlolong dengan kesunyian baru. Menerawang lagit biru yang tak juga memberi jawaban. Bahkan mendung bergulung dari arah barat. Dan mungkin sebentar lagi hujan deras. Tapi aku sedikit terhibur dengan tarian-tarian lucu orang gila di tengah bundaran. Aah..ngakak aku melihatnya menari selayaknya Michael jakson, dia lupa bahwa belum ada seminggu temannya, sesam orang gila meninggal karena tersambar motor sewaktu sedang berjoget dan menyeberang jalan. Ahh memang lebih enak jadi orang gila kali ya..? Tanpa masalah dan angan-angan. Hidupnya tinggal menari dan tertawa. Pikiran yang tak kalah sinting kali ya…? hahahahaha
Srandakan 27 january 2010
Januari 26, 2010
Membacamu dari jauh dalam diam
menikmati malam dengan sendiri di depan toko. betapa indah lampu merkury menyala melingkar di bundaran. ada laron-laron kecil beterbangan menari nari diantara nyala. seolah mengejekku yang cuma terdiam sepi. menerawang langit yang tak lagi menggantung bintang. lalu lalang sepeda motor masih saja ada walapun jam telah menujukan pukul 02 dini hari. tak lagi ku temukan kau disini. ditempat dimana biasa kita bertemu dan bercanda. aku memang bersembunyi demikian juga kau yang jelas telah lama berlalu.
tak sepenuhnya aku ingin pergi. tapi tanda langit memaksaku untuk bergeser dari berandamu. selama ini kita biasa ngopi di meja perjamuan. bersama tertawa membagi cerita menunggu fajar menyambut hari. tapi kali ini aku sendiri berteman jengkerik yang kadang memberiku lagu baru. masih terbayang waktu itu, ketika diam belum menginvasi semua ini. tapi mungkin inilah pilihanku dan mungkin juga apa yang jadi inginmu.
aku memang berniat berlalu ataupun mungkin telah melangkah memulai. tapi aku tak mungkin melupakanmu. tak mau aku jadi bangsat yang tak kenal budi. terlalu keparat jika aku sungguh ingin melupakanmu. aku masih ingin menganggapmu adik jika sudi. menganggap sahabat jelas karena tak pernah ada rumus memutus persahabatan bagiku. tak jauh aku pergi. aku hanya keluar dari beranda dimana kita biasa bercanda. mungkin masih bisa kau temukan aku di bawah pohon mangga depan rumahmu, jika kau masih sudi memanggilku. mungkin juga aku telah membuat tenda di samping rumah. kau masih bisa melihatku dan akupun masih bisa memandangmu.
tak ingin kau bilang marah padaku. karena sungguh aku tidak marah. aku hanya sedang merenung tentang seberapa besar harga diriku. seberapa pantasnya aku. mencoba mendalami tentang arti “tahu diri”. bahwa ternyata selama ini aku salah. aku terlalu mabuk. aku lupa diri. aku terlalu bodoh. aku tolol. saat inilah langit memberiku tanda start untuk kembali meneruskan langkah. membangunkan aku yang terlalu terbuai mimpi. aku memang tak sepantasnya kau. maafkan aku.
bintang masih belum juga mau nongol. mendung bulan january sepertinya masih belum puas untuk bercengkerama. dan aku masih terdiam dalam asap rokok dan secangkir kopi. teruskanlah apa yang ingin kau raih. seperti dulu yang sempat aku mendengar cerita itu. kau bisa. dan kau mampu. dari sini masih terlihat lampu terang dikamarmu. masih terdengar bunyi mesin jahit saat kaki dan tanganmu terus melanjutkan tenunan-tenunan itu. masih aku rasakan dengus nafasmu seperti hari-hari itu. masih kulihat asap rokok mengepul diantara sumpah serapahmu saat kau keliru.
biarlah dalam jauhku aku bisa melihatmu sedekat-dekatnya. disini aku tidak menangis. aku laki-laki. aku masih terbahak dalam tawa. jadi kau tak perlu merasa bersalah. tak ada yang salah dan perlu untuk di persalahkan. memang inilah ruteku. bahwa aku musti berbelok. sesuai rambu yang telah tercipta sebelum kita lahir.
langit masih hitam dan tak juga bulan mau hadir. bahwa aku musti tetap diam dan bisu. menunggu tentang tanda baru jika itu ada. menikmati malam dalam beranda hati. mencari tentang makna diri yang mungkin masih bersembunyi. diantara kelindan rasa yang mati-matian aku sembunyikan. membacamu dari jauh dalam diam.
srandakan 27 january 2010
Akhirnya aku pergi
Dan
Aku pun pergi seperti maumu
Maaf jika tak sempat aku cium keningmu
Tak mampu tinggalkan airmata bagi ritual ini
Lantas
Dimanakah letak kesalahan itu
Aku tak merasa membuatmu menangis
Kau pun tak bilang selain diammu
Tapi tangan langit telah mengibarkan bendera start
Bagi jalanku untuk berlalu
Bahwa akulah yang salah
Terlalu lama singgah di dangaumu
Seharusnya aku pergi malam hujan itu
Maafkan aku
Yang terlalu buta tentang tanda itu
Akan aku tahan sakitku
Dan tak akan menyalahkanmu
Srandakan 20 january 2010
Menikmati diam di tepian sungai
Telah lama tak lagi kurasakan kebisuan seperti dulu. Kesunyian yang begitu penuh warna. Kerlip-kerlip yang seolah memberi ribuan inspirasi. Diantara gemintang malam aku terduduk diatas ember cat. Menikmati malam dalam gulita ynag tenang. Tak ada sumpah serapah. Tak ada janji-janji. Tak ada keirian. Tak ada tipu muslihat. Semua tergelar jujur pada mulut mulut ikan malam. Melupakan hidup modern yang terlalu bising pada teori teori hidup. Walaupun sesungguhnya tetaplah kepentingan pribadi yang bermain. Ingin aku belajar kembali pada kejujuran alam. Tentang bunyi klinting yang menandakan ada ikan yang tersangkut di kail. Tentang bau ketela bakar yang memberi warning bahwa ada ular berbisa di tempat itu dan kami musti cepat beranjak menyingkir. Banyak tanda yang musti kami pelajari dari alam untuk jadi pemancing malam yang tangguh. Juga tanda bau wangi yang tiba-tiba menyebar, harus kita percayai tentang adanya hantu yang mungkin punya istana di tempat kita sedang memancing.
Malam yang masih sedikit menyisakan bintang di langit. Obor dari yang kuasa untuk sedikit memberi rasa tenang akan hujan yang mungkin tak datang. Masih dengan sebatang rokok kretek di bibir aku duduk di samping joran yang tertancap di tanah. Adakah sedikit keberuntungan malam ini buatku. Untuk sekedar penawar rasa sakit yang ingin aku lupakan. Walau sesungguhnya telah lama aku mengalaminya tapi sepertinya semua ini sedikit terbuka perban itu. Seandainya ini luka yang sama dengan luka lama itu mungkin tak lagi aku rasakan. Sepertinya luka ini sedikit punya tempat yang berbeda. Sepertinya bukan hatiku lagi yang tersayat. Sepertinya kepalaku yang terbelah pedang. Jika hati mungkin aku masih bisa menyembunyikan dengan acting acting seperti biasa. Tapi apa yang mampu kau sembunyikan jika kepalamu yang terluka cukup dalam bahkan hampir membelahnya. Dengan cara apa kau sembunyikan pada orang lain sedangkan dengan kepalalah kau akan menyapa mereka. Aku tak habis pikir dengan kekejaman ini.
Hanya tinggal airmata yang aku punya kenapa masih juga di minta!
Malam senyap masih belum juga memberi aku hasil. Sementar teman teman ku sudah sejak tadi berjingkrak-jingkrak kegirangan dengan beberapa sidat yang telah terangkat. Yac mungkin keberuntunganku memang sulit hadir. Mungkin terlampau dosa aku pada keras kepalaku selama ini. Tapi hal ini tak mungkin membuatku surut. Tetap dengan segala keyakinan aku tunggu keberuntungan itu. Mungkin nanti di penghujung malam akan aku peroleh hasil paling gede di banding mereka.
Dan menikmati malam dengan diam. Kembali semakin dalam menyelam ke dasar jiwa. Mencari jawab tentang segala yang tak juga aku temukan. Tentang arti kepuasan hidup bagi manusia itu apakah sama. Apakah dengan mendapat hasil paling gede dia akan puas. Dengan sidat terbesar di pucuk joran menari nari menunjukan kepada semua teman inilah hasilku. Begitukah kepuasaan itu. Tak peduli saat itu kau jadi buta saking gembiranya sehingga menginjak joran temanmu hingga patah. Menendang satu ember umpan ke dalam air hingga tak lagi bisa meneruskan memancing. Tapi kau tetap gembira karena kau lah sang juara dengan ikan terbesar itu. Tersadar lamunanku dan mulai memutar tracker menggulung senar dan mengajak teman-teman pulang. Hari telah malam dan mendung mulai menggantung. Aku jadi yang paling kalah dengan satu ikan saja. Tapi aku berusaha tidak sedih. Masih banyak waktu untuk memulai. Saatnya buat pulang dan menikmati hasil bersama di kedai pecel lele. Minta tolong menggorengkan ikan hasil pancingan tadi. Inilah kebersamaan yang sesungguhnya. Tak ada persaingan. Semua adalah teman semua adalah sahabat. Terimakasih sahabat..!
Srandakan 26 january 2010
selepas hujan di pinggir pantai
Langit mendung mengiringi langkah lelaki itu melempar umpan ke tempuran kali progo. Di tepi laut yang begitu damai walau ombak kecil kadang sampai juga ke kakinya yang telanjang. Duduk berjajar bersama beberapa teman pemancing. Dia amat menikmati keheningan itu. Mencoba tentang keberuntungan jika masih mau hadir dalam hidupnya yang selama ini terasa hanya kesialan-kesialan aja. Rokok kretek tersumpal dalam mulutnya dan sesekali dia keluarkan untuk memberi ruang asap menyapu wajahnya. Tangan terulur pada joran panjang nya dan mata tak pernah lepas memandang dimana tempat dia melempar umpan tadi walaupun klinting akan memberi tanda jika ada ikan yang tersangkut. Tapi kau mungkin tak pernah tahu jika pikiran dia melayang entah kemana.
Aku tak berniat lari kawan. Begitu katanya padaku sore tadi. Aku hanya ingin sedikit bernostlagia dengan komunitas ini. Aku ingin keheningan yang damai. Persahabatan yang jujur. Kesetiakawanan. Betapa indah saat kita tertawa bareng saat mendapat hasil dan membaginya bersama sama. Begitu juga begitu mengasyikan saat kita berlari serempak saat hujan deras dan berteduh berdempet pada gubuk yang begitu kecil. Semua mengalah memberi tempat tak ada ketua tak ada yang lebih menguasai disini. Dan lamunanku buyar saat melihatnya berlari surut kebelakang sambil menggulung senar pakai trackernya! Ow…dia dapat ikan sidat yang begitu panjang! “ tolong..tolong..bantu aku,” teriaknya kebingangan diantara rasa gembiranya. Kami pun mendekat membantu melepaskan ikan itu dari kailnya. Terlihat rona merah bahagia di wajahnya. Berbeda 180 derajat dibanding saat berangkat tadi. tak terasa akupun ikut gembira melihatnya tertawa.
Aku kembali mengingat apa yang dia ceritakan tadi malam. Tentang kekecewaan yang kembali hadir dalam perjalanan hidupnya. Akupun kembali menyalahkannya. Dan seperti biasa dia tetap ngotot dalam pendiriannya. Untuk masalah lain aku masih menghormati ralat tapi kalau masalah cinta sory aku sepertinya tak bisa menerima ralat, begitu katanya.
Aku tetap mempercayai kata pertamalah yang paling jujur. Apakah kau lupa pada kisah kisah yang lalu. Tentang mereka mereka yang katanya mencintaiku setelah putus dengan pacarnya, padahal sebelumnya telah mengatakan “tidak” saat itu ketika aku tanyakan kenapa bersikap manis padaku tiap hari. Aku tetap diam dan kami pun cukup bersahabat saja. Apakah kau lupa jika cinta sejatiku sesungguhnya telah hilang. Dan aku hanya menunggu wanita mencintai aku dengan ketulusannya. Jika aku terpaksa mengucapkan kata cinta itu sesungguhnya sangat terpaksa sekali sekedar menunggu kepastian saja. Jika dia mengatakan “ya” maka mulai detik itulah aku mungkin akan mulai menyulam cinta untuknya. Tapi jika tidak ya sudah, tak ada lagi ralat, dan akupun pergi! Jikau kau pikir aku akan membencinya salah besar, apa kau lupa tentang anak kecil yang aku gendong dan memanggilku pakde saat itu! Dialah anak seorang wanita yang menolakku.
Kasihan dia, kekerasan hatinya telah membuat hidupnya sengsara. Tak juga dia temukan wanita yang selama ini dia tunggu. Banyak teman dan kerabat yang ingin membantu tapi tak ada yang di gubris. Bahkan teman alumni SMA nya dia juga sampai marah dan tak lagi menanyakan ini setelah tawaran bantuan buat mencarikan jodoh tak juga dia terima. Entah dah berapa kali dia selalu berbuat begitu. Tak mau mengejar wanita. Cukup sekali menyakan jika dia bilang tidak yac..dia pasti langsung berlalu tak lagi mau mengejarnya! “emang dia Dian Sastro? ” joke dia yang membuatku tergelak saat itu ketika aku bilang bahwa gadis tetangga itu menolak karena sok jual mahal saja dan menunggu kau kejar.
Ahh lelaki aneh yang selalu bilang tak mengenal arti cinta. Dia hanya selalu bilang komitmen. dan akupun sesungguhnya tak juga tahu apa itu maksudnya? hanya dia bilang cintanya akan menyusul kemudian..ahh bullshitlah..dasaaar lelaki aneh…
srandakan 25 january 2010