Juli 15, 2010

Semacam Dongeng ( Embrio, jikalau mungkin ) * telah aku posting di FB

Ditulis dalam Uncategorized pada 5:15 pm oleh aryo yudistira

Langit masih biru seperti dulu, batu masih tetap hitam seperti saat waktu belum berjalan. Lelaki itu tersandar di dindingnya, membatu serupa batu. Jikalau bukit dan tebing itu punya cermin, mungkin lelaki itu pangling dengan wajahnya sendiri. Tak ada lagi yang hitam dari semua bulu dan rambut yang tumbuh disetiap sisi tubuhnya, semua memplak putih layaknya bulu angsa.

Di seberang tebing, dengan pembatas jurang yang begitu dalam, sosok yang tak jauh beda sedang bersandar pada pohon cemara. Seorang wanita yang juga telah putih rambut yang begitu panjang terurai. Dari keriput wajahnya masih terlihat garis-garis kecantikan masa mudanya dulu. Dia masih terdiam memandang di seberang jurang pada sang lelaki yang masih juga terdiam. Bisu. Sebisu dua sisi-sisi tebing yang tak juga mau merapat sepanjang penantian mereka.

50 tahun yang lalu…

“Aku mencintaimu walau jurang begitu curam dan lebar memisahkan tubuh kita.” Kata si lelaki dengan lantang, seolah penyair yang sedang beraksi diatas panggung.

“Apa buktinya kau mencintaiku jika kau masih bertahan dan berdiam disitu. Mana usahamu untuk sekedar mencium keningku?” timpal si wanita tak kalah lantang dari seberang jurang.

“Aku sedang berpikir dan menimbang tentang seberapa tajam batu-batu lancip di bawah sana. Sedang aku imajinasikan bagaimana rasanya jika aku gagal meloncat dan jatuh ke bawah.”

“Kenapa harus meloncat? Dimana kepalamu? Masihkah itu bisa di gunakan untuk berpikir? Kau bukan kuda ataupun leopard, kau manusia, kau pangeranku yang setiap detik aku tunggu kehadiranmu. Carilah jalan dengan isi kepalamu!”

“Lantas kenapa kau yang selalu menuntutku? Bukankah kau punya kursi lontar, sekali sentuh kau telah ada di tempatku?”

“Sebab aku tak ingin meninggalkan tanah yang selama 30 tahun telah memberiku hidup. Aku mencintai setiap biji batu dan setiap batang pohon pulau ini, aku tak mungkin meninggalkannya! Sedang kursi lontar ini tak mungkin aku bawa ke tanahmu, aku tak lagi bisa kembali kesini jika telah sampai ditempatmu!”

“Kau egois! Dimana letak devinisi cinta yang kau banggakan dan membuat seluruh hari-hariku menjadi siang itu? Bukankah omong kosong?”

“Kau beri nama apa setiap waktu yang aku habiskan di bibir tebing jurang ini? Bukankah hanya satu tujuan demi untuk melihat dan bercakap dengan dirimu? Tak layakkah ini dinamakan cinta?”

“Kau cukupkah hanya dengan bercakap kita telah syah sebagai pasangan kekasih? Dimana jalan menuju istilah suami istri?”

“Kenapa kau bertanya padaku? Bukankah itu lebih tepat di alamatkan padamu? Kau lelaki!”

“Lelaki? Aku? Stempel inikah yang membuatku memanggul tugas?”

“Ya, tanpa penjelasan di belakangnya!”

Lelaki itu terdiam. Entah kehabisan kata atau telah lelah berdebat hingga memilih untuk mengalah. Angannya melayang jauh, pada tepi-tepi kemungkinan yang tak juga memberinya tawa.

Aku telah berusaha semampuku, bidadariku, tapi bukahkah boleh aku menjadi gagal. Tak juga aku temukan kursi lontar seperti apa yang jadi milikmu. Seandainya aku temukan kursi lontar seperti milikmu, tak akan serta merta aku meloncat ketempatmu, aku juga teramat mencintai tanah ini, bahkan aku telah bersumpah kelak mati dan dikubur di tempat ini.
Jurang ini terlampau dalam, kematian yang kelak menyambutku jika nekad meloncat demi cinta. Melupakan logika bukanlah bukti cinta tapi sinyal ketololan. Aku hanya mampu memanjatkan doa, dengan harapan turunnya jembatan tiban diatas jurang ini, keajaiban darinNYA!

Hari ini…( 50 kemudian)

“Bidadariku! Masih hidupkah kau di seberang sana?” tak lagi lantang suara lelaki ini, bahkah di sertai batuk yang berat seolah menekankan bahwa ajal tak akan lama lagi.

“Masih, pangeranku! Aku ingin kelak kita akan di panggil berbarengan, seperti Bhisma dan Amba, kita bersatu di nirwana.” Jawab si wanita dengan suara tak kalah lemah, masih di seberang jurang.

Srandakan 15 juli 2010

( Sebuah perenungan, terserah para pembaca menafsirkannya! silahkan di adili! )

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.