April 4, 2010
Puisi cinta
tak mampu aku tahan
kembali menjilat mengunyah
mencecap dan menelannya kemudian
wahai puisi cinta yang seolah aku ceraikan
kau yang seumpama garnis
bagi segelas kopi pahit yang aku tawarkan
kaulah kilau bungkus kado
bagi tembelekku di dalamnya
betapa haus dahagaku
ingin kusegera berenang dalam sungaimu
menyelam mengambil kembali baitbaitku
diantara pasir dan kerikil
lantas
masih layakkah aku umbar busabusa mulutku
seumpama petikan dawaidawai hati
sedangkan tak lagi ada nyala dalam diri yang semakin lindap
percayalah
tak ada yang manis dalam diriku
selain gombal dan omong kosong
:persetan
dan
aku pertahankan diam
tak jadi menyelam
bertapa di tepian
sebagai kalah yang membanggakan
menepuk dada kejujuran
kelak disuatu siang yang tak berangin tak berterik tak berhujan akan ada suara lembut mengeja lima huruf di telingamu mungkin itulah aku yang telah bangkit dan memilihmu.
Srandakan 1 april 2010
Kika berkata,
Mei 3, 2010 pada 5:59 am
Aku tidak akan bangkit dan memilihmu, namun bangkit untuk memilihnya yang baru.
aryo yudistira berkata,
Juli 15, 2010 pada 5:19 pm
hehehehehehe…nuwun mas kika berkenan mampir…lama aku ndak nengok blog je…baru tahu ini….