April 4, 2010

Puisi cinta

Ditulis dalam Uncategorized tagged pada 3:29 pm oleh aryo yudistira

tak mampu aku tahan
kembali menjilat mengunyah
mencecap dan menelannya kemudian
wahai puisi cinta yang seolah aku ceraikan

kau yang seumpama garnis
bagi segelas kopi pahit yang aku tawarkan
kaulah kilau bungkus kado
bagi tembelekku di dalamnya

betapa haus dahagaku
ingin kusegera berenang dalam sungaimu
menyelam mengambil kembali baitbaitku
diantara pasir dan kerikil

lantas
masih layakkah aku umbar busabusa mulutku
seumpama petikan dawaidawai hati
sedangkan tak lagi ada nyala dalam diri yang semakin lindap

percayalah
tak ada yang manis dalam diriku
selain gombal dan omong kosong
:persetan

dan
aku pertahankan diam
tak jadi menyelam
bertapa di tepian
sebagai kalah yang membanggakan
menepuk dada kejujuran

kelak disuatu siang yang tak berangin tak berterik tak berhujan akan ada suara lembut mengeja lima huruf di telingamu mungkin itulah aku yang telah bangkit dan memilihmu.

Srandakan 1 april 2010

2 Komentar »

  1. Kika berkata,

    Aku tidak akan bangkit dan memilihmu, namun bangkit untuk memilihnya yang baru.

    • aryo yudistira berkata,

      hehehehehehe…nuwun mas kika berkenan mampir…lama aku ndak nengok blog je…baru tahu ini….


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.