Januari 28, 2010

Membacamu, mengenangmu bersama catatan itu

Ditulis dalam Uncategorized tagged pada 9:18 am oleh aryo yudistira

Siang di depan TV dengan sajian aksi demo menentang pemerintah, setidaknya aku dapatkan diksi baru disini “pemakzulan” . Masih tetap terdiam mencoba menyaring pada kisah-kisah yang telah terjadi. Membacamu pada kisah masa lalu. Tentang cerita-cerita itu. Hmmm

Aku terpancing untuk membuka file file lama! Tentang catatan yang aku tulis hasil dari percakapan kita. Saat kepercayaan kita sedang berada di puncaknya. Kau percaya aku 100% mungkin, untuk jadi tampungan ceritamu. Dan akupun percaya 100% bahwa semua cerita mu adalah kebenaran bukan fiksi. Dengan ijinmu aku tulis sebagian yang layak di tulis, dengan aku rangkai dengan sebatas apa imajiku mampu meraihnya, dengan kisah-kisahku tentunya. Ahh jadi malu..! Dan akhirnya lahir catatan tentang “ Cahaya 1-7 “ itu.

Mendung masih menggantung dibulan January reaksi alam yang tak bisa di tolak. Dan aku larut membaca kembali catatan- catatan ini. Semakin menipis aku mempercayai ini. Benarkah ini sebuah kebenaran. Lantas untuk apa jika ini bohong. Tak habis mengerti juga. Ahh semakin pusing aku. Dan semakin dalam menyelam larut dalam catatan ini. Mengenangmu saat bercengkerama dalam subuh yang tenang. Menjadi pendengar yang baik dan tak pernah protes. Mengagumimu yang tak pernah kenal kantuk. Cerita yang begitu mempesona bagiku yang belum pernah aku dengar dari siapapun.

Dalam jauhmu sekarang ini, masih mampukah aku mempercayai ini semua. Haruskah aku melupakan semua catatan ini. Tapi setidaknya ada tanda yang tertinggal setelah kepergianmu ini. Setidaknya dengan membaca catatan ini selukis wajahmu yang terbayang. Saat itu juga ketika kau tunjukan samping rumahmu yang penuh tanaman-tanaman hias. Yang kau bilang kau rawat dengan cintamu. Yang kalau nggak salah menjadi salah satu inspirasi catatan salah satu tentang “cahaya” itu.

Kembali membacamu pada kisah masa lalu,

Tentang cahaya itu #1
27 November 2009 jam 7:05 | Sunting Catatan | Hapus

Pernahkah kalian merasakan tentang hadirnya angin yang begitu lembut seolah bercahaya. tanpa pernah kamu ketahui dari mana arah datangnya, untuk apa dia datang,siapa yang mengirim dan mengarahkan. tapi dia datang dengan segala kesungguhnya, menyusup dari semua pori pori tubuh, ujung kaki sampai pucuk kepala. tak pernah mampu kamu tahan. andai dia punya warna…umpama hijau, maka hari itulah seluruh tubuhmu telah di hijaukan tanpa peduli apa itu warna favoritmu atau bukan. mulai hari itulah kau telah jadi sesuatu yang berbeda, sesuatu yang baru, sesuatu yang lebih bertenaga, sesuatu yang tak pernah lagi mampu kamu logika bahwa kamu telah berubah, bahwa kamu telah di giring, bahwa kamu siap melakukan apa saja tanpa kamu sadari bahwa kamu belum pernah melakukan itu.

Lalu jika suatu kali dia membawamu pada tebing yang begitu curam dan licin, maka kamupun tak lagi mampu menolak, karena dialah sang penguasa bagimu, dialah yang mengaturmu. Kamu hanya tinggal bagai kerbau di cocok hidung, menurut dan berjalan sesuai arah yang diinginkannya. Bukan berarti kamu akan selamat dengan perlindungannya, amat sangat mungkin kamu akan tergelincir dan jatuh dalam curamnya jurang itu. tercabik, tersayat dengan puluhan luka mungkin. Hanya kedua kaki dan tanganmu yang mampu menyelamatkan dirimu bukan dia. Dan juga apa yang ada di kepalamu!

Pada waktu yang lain mungkin sedang dalam pucuk bahagiamu di teras rumah saat hujan lebat datang, bercengkerama dengan mimpi khayal. Tak perlu kamu lari menghindar karena jelas nggak mungkin, jika kamu di ajak keluar dan basah kuyub akan hujan itu. menggigil tanpa apapun dalam tubuhmu dan dia hanya tersenyum di bawah naungan kepalamu. dan jika kamu masih mampu mendengar dalam gigilmu, dia kan berbisik ” inilah ujian bagimu, inilah rasa lain dari bahagia itu”.

Tapi jika kamu adalah sosok dengan garis tangan yang memukau,dengan bintang keberuntungan diseluruh tubuh, tak perlu mungkin kamu lewati semua itu. Dia mungkin telah begitu percaya padamu, dan membawa pada taman penuh bunga indah, utopia yang terealisasi, puncak dari segala ingin, akan kelayakan dari sudut pandang umum. Ahh betapa indahnya itu, betapa semua langkah terasa ringan, tak lagi perlu bawa perban dan juga tisu.
Bolehkah aku menangis jika ternyata aku bukan orang seperti ini?

Srandakan, 27 november 2009

( catatan hasil dari percakapan malam takbir dengan seorang teman diramu dengan perenungan diri pada kisah masa lalu)

Tentang cahaya itu #2
29 November 2009 jam 4:48 | Sunting Catatan | Hapus

Kembali kuingin bicara tentang yang kemarin, tentang sebatang pohon di depan rumah, betapa kokoh dan kuat walaupun angin kadang kala begitu kencang menerpanya, lihatlah jika kau mampu, tentang akar yang ada dibawah, betapa rajin dia bekerja menelusup ke dalam dan semakin dalam, demi sepotong roti mentah buat menu masakan daun daun di atas sana, lihatlah senyum jujur daun itu walaupun kadang kala bingkisan kiriman akar tak seperti yang dia harapkan. ketika aku bertanya pada daun dan juga akar tentang apa yang menjadi rahasia semangat mereka ” kami hanya ingin batang pohonku semakin tinggi dan tinggi’, begitu kata mereka berbarengan, lihatlah semakin rajin akar mencari makan semakin tinggi pohon itu dan semakin lebat daunnya, betapa daun tak pernah melupakan jasa akar, dia relakan selembar demi selembar jatuh, agar akar tak lagi susah mencari makan selagi lelah, betapa daun telah bersyukur telah melihat dunia semakin jelas saat batang menjulang. coba lihatlah apa yang dilakukan akar, memperkuat diri agar pohon itu tidak bergoyang apalagi tumbang saat badai datang, cukup dia mendapat bahagia dari tersenyumnya daun ketika melihat dunia-dunia baru selepas pohon itu bertambah tinggi, akarpun merasa semakin teduh.
aku mencoba bertanya pada pohon tetangganya, inilah jawaban itu “aku melihat ada cahaya yang begitu lembut masuk pada pori-pori pohon itu selagi masih tunas”, cahaya….?….ohh.

pernahkah kalian mengalami ketika cahaya itu masuk rongga kepalamu menelusup ke semua aliran darah. dan kau melihat seseorang didepanmu begitu sempurna, tak lagi teringat tentang bekas luka di pipi yang tertinggal seolah noktah hitam yang tak lagi mampu di hapus, juga bau anyir tubuhnya karena sejak beberapa hari tak mandi kehabisan uang buat beli sabun, tentang kaki yang yang pecah-pecah tak beralas, tapi hari itu ketika cahaya telah masuk dan menguasai, tak lagi semua itu terlihat di matamu, semua yang kau lihat adalah kesempurnaan yang terpancar, satu satunya yang ingin kau datangi, tak ada yang lain yang terlihat kecuali titik itu menggiring langkahmu, kaupun jadi lupa jika banyak hal yang sebenarnya merepotkanmu, mungkin saja kau masih bergelut dengan lumpur yang begitu pekat, mungkin juga kakimu sedang pincang, tapi sungguh kau lupa, kau buta, kau terhipnotis, kau tetap berjalan ke arahnya tanpa peduli “who I am?”,

lalu apa yang terjadi jika tanganmu hampir meraihnya tapi tiba tiba ada tangan lain yang mendahului, apakah kamu akan menangis, apakah kamu kan mengumpat dengan ribuan nama nama hewan, ataukah kamu akan membenci dengan tiba tiba dirinya, menghapus semua catatan yang selama ini tersimpan di teras kepalamu, mengumpat pada tangan baru yang meraih itu, mengumpatnya tak kenal lelah dengan ribuan doa doa busuk baginya, menulis di setiap batang pohon yang kamu lalui tentang keburukan, mempromosikan pada semua orang bahwa kamulah yang benar dan merekalah yang salah,
lalu jika memang itu, dimanakah kesungguhanmu itu? kesungguhan tentang cahaya yang kau sebut sedang menghampirimu, tidakkah itu palsu?
demi dirimu ataukah demi dirinya? itulah berarti kamu hanya memikirkan dirimu..dirimu..dan..dirimu…..,
kenapa…kenapa…kenapa….
mengapa…mengapa….mengapa….

Srandakan, 29 november 2009
(terinspirasi dari yang memberi diksi ” mengapa..mengapa..mengapa”, makasih banget buat dia…! )

Tentang Cahaya itu#3
06 Desember 2009 jam 4:22 | Sunting Catatan | Hapus

;episode ndleming/mencoba kembali menulis prosa

menunggu cerahnya pagi betapa menyiksa jika malam terasa panjang tiap detak jarum jam seolah terdengar dan memancing untuk menghitung detik demi detik, tapi apa yang bisa kamu lakukan jika semua memang musti menunggu, boleh kau bilang memutar jarum jam, tapi apa yang berguna jika bulan tetap terpasung, menunggu jawab tentang cahaya itu, cahaya yang sempat hadir waktu itu, ketika kumisku masih tipis dan belum selebat sekarang, ketika jalan masih begitu lengang dan tak seramai sekarang, ketika degup jantung masih membahana tak sehalus sekarang, ketika…ahh terlalu banyak terlalu nyinyir jika aku tulis semua,tapi cahaya itu nyata, dia sungguh hadir waktu itu, tapi kerentaanku lah yang menahanya, menyimpannya rapat-rapat dalam alamari hati, ” tapakkan kakimu ketanah kawan…apa modalmu?”, begitu suara lirih yang kutenun jadi rantai pengikat kaki untuk diam dan tak melangkah mendekat, dan mencoba mengalihkan pada yang lain,

tapi apa kau mampu jika cahaya itu tak juga beranjak, tak akan ada yang mampu mengaturnya, mendatangkannya padamu dengan suap milyaran sekalipun, mengusirnya dengan ribuan senjata, tidak…tidak mungkin, dia akan tetap diam bersemayam, menunggu inginnya sendiri,mungkin dia masih merasa nyaman meringkuk di sana, mungkin suatu saat ingin menari, tapi mungkin suatu saat justru ingin berlalu,tak ada yang tahu, hanya cahaya itu sendiri yang tahu,

sayang mulutku tak lagi senyaring dulu, tak sejalang ketika itu, saat degup jantung masih kencang bertalu-talu, andai waktu itu mungkin akan aku teriakan di bibir kupingnya, begini :

” teruslah berjalan pada ramai hari-harimu, tak perlu ragu akan terik dan hujan , akulah payung dimana bayang-bayangmu pun ikut terteduhkan “,

sayang akupun tak lagi bernyali laga seperti dulu, sekuat dulu, terlalu lembut aku sekarang, andai waktu itu ketika otot-ototku baru mekar mekarnya, mungkin ketika harimau itu hampir menerkamnya aku telah berdiri dua senti didepannya, dan teriak begini :

” tikamlah aku dengan kukumu, jika kau inginkan dia, tak pernah aku takut akan kematian, sebab ajalku bukan tergantung pada kuku-kuku tajammu, tapi masa aktivku sebagai manusia yang telah tertulis bersama tanggal lahirku lah yang menentukan, lihatlah betapa di pucuk cemara itu ada kepalan tangan yang mendukungku “,

senja tetaplah senja tak mungkin berganti pagi, tapi tahukah kau jika selepas malam yang begitu pekat, kelak akan kembali hadir pagi, pagi yang baru, bukan pagi yang kemarin, pagi yang mungkin lebih cerah dengan warna-warna pelangi, memang mentari yang merekah itu tetap sama, tapi cobalah rasakan lembutnya cahaya yang masuk ke pori pori, tak kau rasakan kah bedanya, itulah cahaya baru pada hari baru, yang hadir selepas simpul-simpul kejujuran itu terlepas, memendar ke relung relung jiwa,

( kayaknya sudah terlalu panjang…ini dulu ya…tahan napas sik…..to be continue)

Srandakan, 06 desember 2009

Tentang cahaya itu #4
06 Desember 2009 jam 12:50 | Sunting Catatan | Hapus

;edisi ndleming/melanjutkan balajar menulis prosa

Suatu sore dalam kamar pengap tanpa ventilasi dan cahaya. Terdiam tanpa teman. Terduduk pilu dalam mimpi yang semakin buyar. Berharap pada harapan akan cahaya yang mencarinya. Dalam diamku yang tak lagi punya nyali buat sekedar permohonanan. Berharap akan di temukannya tongkat Musa, diantara sepatah dua patah doa yang begitu sulit lagi buat di eja.
Ataupun akan kapal Nuh buat berlayar meninggalkan bah, yang tak lagi mampu aku hadapi dalam renta yang terasa kian rapuh. Tak ada lagi mimpi tentang orang suci dalam benakku, yang kian berbelatung. Dalam busuk yang tak lagi mampu aku ramu kembali,selagi segala menyerang dikala senja makin lindap.

Tak hanya aku, mungkin kau juga mereka,
ketika terduduk pilu di palung sunyi,
meretas mimpi,
melongok langit,
cobalah kembali mengenang masa itu
pasti, kau merasa seolah bisa menghitung bintang dilangit. Seolah kamu bisa membedakan mana yang dekat mana yang jauh, walau sesungguhnya jawabannya sama, jauh dan tak terhitung.
tapi pernahkah kau terdorong keinginan untuk melakukan itu? Menghitung bintang seolah kau mampu, tersebab suatu kekuatan yang tak kamu ketahui dari mana datangnya, ketidak mungkinan yang seolah mungkin karena dorongannya, uuh…

itulah kisah yang sempat memicu tawa dan juga tangis, tentang masa itu, ketika aku mencoba menyembuhkan rindu yang lama aku pasung dalam kamar pengap putus asa, tentang dunia tulis menulis,

Facebook oh facebook memberiku angin segar seolah pintu masuk yang amat sangat terbuka, dan sungguh aku mendapatkan tawa itu, melupakan tangis yang telah aku anggap bosan, hari itu satu demi satu aku sapa mereka,dengan catatan catatan ringan, dengan puisi-puisi gombal, berbagi tawa berbagi beranda, dan sampailah aku pada beranda yang lama aku incar, bertegur sapa sekenanya seolah teman yang lama tak berjumpa,

07 Mei jam 4:43
seep…dengan senang hati…mari belajar bareng……salam kenal juga :)

07 Mei jam 5:13
jangan pernah putus asa pada apapun…kenapa sampai itu hanya tersimpan di komputer? bagikanlah….coba di share ke teman-teman. saya juga masih belajar kok :)
dalam menulis saya berusaha untuk membebaskan diri dari segala teori yang ada, meski sebebas apapun itu tetaplah kita memiliki barometer tersendiri bukan? so…mari kita terus belajar :)

kami menjadi teman, kami menjadi sahabat, walau hanya lewat tulisan-tulisan, tapi karena terlampau tingginya dia terbang, terlampau kemilaunya sayap yang dia kenakan, tak bisa setiap saat berbagi tulisan, tapi begitu banyaknya teman yang dia miliki, sedikit membuat terhibur, mulailah canda tawa bergeser pada penghuni lain rumah itu, hanya sesekali saja berjumpa dengan dia, itupun lebih dari cukup bagiku, karena sesungguhnya cahaya yang aku tunggu telah aku dapatkan bersama tiap catatan yang dia lahirkan, motivasi baru semangat baru tentang mimpi masalalu,

antara sadar dan tidak sadar, semua catatan yang lahir dari pena lapukku, terjangkiti virusnya huruf demi huruf, seolah semua itu lahir dari tungku dan tembikar yang sama, betapa aku malu. betapa aku takut, ahh plagiat, tapi semua tak bisa aku hindari, inilah yang aku mampu dan bisa, semua menjadi begitu asin karena garamnya, kadang begitu manis karena gulanya, ahh…

dia bukanlah guru tapi dialah suhu, dari kelenteng di pucuk sana, mengirimkan selembar demi selembar catatan bagiku yang di ngarai,

( inilah kartuku yang aku buka…terserah apa vonis kalian)

Srandakan, 7 desember 2009
Tentang cahaya itu #5
08 Desember 2009 jam 2:34 | Sunting Catatan | Hapus

;edisi belajar menulis prosa liris / anggap aja lanjutan Chapter 3

Pernahkah kau merasa begitu bangsat, begitu bajingan dimata beberapa orang yang pernah hadir dalam hidupmu. Merasa begitu rendah dimatanya. Betapa kau adalah anjing yang tak layak buat didekatinya. Kau adalah sekumpulan nanah-nanah menjijikan yang musti mereka tutup hidung, bahkan juga mata. inilah kisah itu;

Suatu hari…ah betapa kuno aku memulai cerita ini, tapi tak juga kutemukan cara lain, memang sesungguhnya itu yang terjadi. Jika kau di datangi seorang yang begitu tinggi nilainya di banding kau yang petani, dia hadir menyapamu ketika kau mencangkul di sawah, memuji semua yang kau tanam, dia bilang kau petani yang berbakat, tanamanmu hijau dan subur. Tidakkah kau bahagia? Bukankah kepalamu jadi begitu besar? Begitu tersanjung dan seolah ada yang merebut lelah dan mengeringkan setiap tetes keringatmu.
Tapi apa yang akan kau lakukan, jika dia ternyata tinggal di istananya yang jauh di seberang laut? Adakah rasa takut di hatimu? Jika suatu saat kau di ajaknya pergi, membantunya bercocok tanam disana,meninggalkan sawah juga gubuk yang begitu kau cintai? Sebab amat tidak mungkin, kau pindah beserta sawahmu, juga tidak mungkin kau tinggalkan ayah dan ibumu dalam rentanya.
Lalu tindakan bodoh yang kau lakukan adalah sembunyi dan sembunyi, ketika dia datang. Karena kau hanya takut mengatakan “tidak” jika benar apa yang kau pikir bahwa dia akan mengajakmu pergi…

Salahkah dia jika mengataimu sebagai bangsat tak tahu balas budi, menyebutmu sebagai pengkhianat yang menjijikan. Salahkah juga kau di matanya jika kau tetap diam dan membiarkan umpatan itu melegakannya. Salahkah kau jika masih ingin menyapanya walau jauh disana, di istananya di seberang laut dari kau yang begitu kecil tak terlihat di pinggir pantai? Sebagai pengakuan bahwa dia tetap lah sahabat di matamu.

Benarkah kau jujur mengatakan itu? Tidakkah itu tak seluruhnya benar? Sebab ada yang lebih sebagai alasan paling nyata, tentang sosok lain yang pernah hadir padamu. Bukan dia yang mendatangimu, kau lah yang berkunjung ke tempatnya. Melihat dia bercocok tanam dengan segala yang terlihat luar biasa di matamu, seolah ada sebuah mimpi utopis mengajaknya tinggal di gubukmu, bersama bercocok tanam. Ataupun tinggal di istananya yang begitu lebih dekat, hanya di seberang sungai. Tapi tidakkah keinginan ini juga begitu bangsat, jika kau mau menengok tentang sawahmu yang tak sebanding dengan hektaran tanaman beraneka yang dia miliki? Tidakkah kau egois ingin menumpang enak dari sengsaranya hidupmu? Tidakkah ini lebih keji dibanding perompak? Lalu perlukah kau marah jika ribuan mulut mencercamu sebagai laknat ataupun bajingan?

Lalu apa musti kau lakukan jika mimpi besar itu seolah tersenyum dan mengulurkan diri. Duduk di sampingmu ketika keringat masih membasah dan cangkulmu masih kotor. Padahal di tempatnya waktu itu kau tak mungkin bisa sedekat ini. Sekarang kau seolah bernafas dari kumpulan oksigen yang sama, begitu dekat dan teramat dekat. Lantas bolehkah kau dengan arogan mengatakan bahwa dia telah dirasuki cahaya itu, cahaya yang mengarah padamu, tidakkah kau pikir ini hanyalah rasa besar kepalamu, tentang dirimu yang sungguh-sungguh tak begitu pantas untuknya.
Mungkin justru kau akan semakin gombal dan mengatakan bahwa kau juga punya cahaya untuknya. Dan ribuan orang tak mempercayaimu, dan tetap pada sikap bahwa kau adalah perompak baginya. Bahkan kau akan di tampar sebagai bangsat tak tahu diri.
Lantas dengan cara apa musti kau jelaskan pada mereka? Menunggu airmata yang menetes dari pelupukmu berubah jadi darah, sekedar simbol bahwa merah adalah hati dan apa yang kau bilang adalah sungguh-sungguh?

Malam masih begitu pekat dengan ribuan bintang terlihat malu malu
menunggu pagi memberi cerah
sampai entah….

Srandakan, 8 desember 2009

Tentang cahaya itu #6
09 Desember 2009 jam 1:43 | Sunting Catatan | Hapus

;edisi belajar menulis prosa liris

Kau yang merasa selalu kehilangan dan kalah. Pernahkah kau benar-benar merasa membawa beban yang begitu berat , susah payah kau jinjing dengan segala tenaga yang kau mampu. Tapi ketika kau sampai di depan pintu, betapa terkunci rapat dengan ribuan penjaga menghadangmu.
Walaupun ribuan doa mengiringi langkahmu, kau pun tetap merasa tak mampu.
Ada dua kemungkinan jelas, satu kau tetap berdiri disitu dengan harapan belas kasihnya menyilahkan kau masuk dan yang kedua kau berlalu pergi mencari pintu yang lain.

Dan hari itu begitu saja memilih melangkah menuju pintu kedua. Kau jinjing kopor berat itu kembali dengan segala susah-payahmu. Terlampau lelah kau ternyata. Tak semua barangmu bisa kau bawa, ataupun mungkin memang sengaja kau tinggalkan buat penghuni rumah itu. Seolah kau tak ingin berlalu seluruhnya.

Lalu kau mengapung terombang-ambing diantara pertanyaan-pertayaan yang mengejarmu. Dimanakah rasa setiamu pada prinsip yang kau ucapkan pada pintu kamarmu. Saat kau memulai langkah pertama menuju rumah itu, pada catatan-catatan rencana yang kau tulis dimeja sebelum semua barang masuk kopor, apakah kau hanya akan bilang :
“hanya coba-coba mencari hiburan sebab pintu utama jelas tertutup untukku, sebab sudah terlalu lelah aku berjalan dan segera pingin istirahat dengan teduh.”
Teramat remeh itukah alasanmu? Sepertinya tidak? Mungkin kau hanya menunggu waktu yang tepat sebab pintu mereka berdekatan dan terlalu mudah bagimu mengawasi. Terlalu sepele jika kau melupakan pintu pertama, yang jelas telah kau impikan sejak kopormu belum kau beli.

Lantas apa yang kau lakukan pada pilihan darurat ini, benarkah kau dapatkan keteduhan itu? Terlalu banyak mulut kau jika bilang “ya”. Mungkin benar kau sedikit terhibur dengan kepura-puraanmu. Sebab jelas lelahmu terobati dari perjalanan yang begitu jauh. Tapi apakah rasa yang dulu kau impikan itu hadir?
Mungkin “ya” jika kau merasa punya teman dari kesendirian pilu yang terlampau panjang. Ataupun kau merasa perlu merevisi, bahwa apa yang selama ini kau impikan adalah kemustahilan. Bahwa kau ingin realistis tentang hari yang semakin senja. Yang mungkin akan segera turun hujan.
Tapi jelas “tidak” jika kau mau membuka catatan tentang apa yang ingin kau raih dari langkahmu meninggalkan pintu rumahmu. Bahwa pintu yang pertama itulah paling dari yang terpaling bagi kompas perjalananmu selama ini.

Bahagiakah kau di pintu kedua ini bersamanya? Saat tawamu begitu terbahak, padahal kau hanyalah di jadikan penghibur bagi waktu senggangnya. Tak pernahkah kau sadar bahwa harapanmu tentang kepemilikannya itu tak akan pernah lahir. Sebab dikala kau membawa lem yang begitu rekat bagimu, justru dia bawa api merenggangkannya. Jadi bukan suatu yang salah jika kau sering mengintip tentang pintu yang pertama.

Sebegitu bahagiakah kau ketika kesempatan masuk pintu pertama terwujud? Ketika si pemilik mengulurkan tangan memberimu waktu bercakap di kamar tengah. Salahkah kau jika mulai mengesampingkan pintu yang kedua dan kembali bermimpi tentang pintu yang pertama.
Tak banyak yang kau tuntut sesungguhnya, dari bahagia yang ingin kau pinang bersama penghuni pintu pertama. Kau hanya ingin dia membetulkan cara memegang pensil yang benar. Menyorongkan penghapus ketika dia bilang terlalu tebal arsiran yang kau coretkan. Sesuatu yang tak mungkin kamu dapatkan dari penghuni pintu kedua.
Walaupun sesungguhnya jika kau mau jujur, ada keinginan lebih menyertainya. Puncak mimpi yang mungkin dengan seluruh kesadaranmu terlampau sulit kau ubah jadi nyata.

Terlalu sombongkah kau? Jika kau bilang bahwa ini adalah buah yang kau petik dari pohon kesabaranmu selama ini. Tidakkah kau pikir bahwa ini hanyalah kebetulan semata dari rasa kasihannya melihatmu terlunta. Ataukah kau akan menjadi begitu naïf dengan bilang pada semua orang tentang kekuatan lembut sepercik cahaya. Cahaya yang merasukinya untuk sekedar menyapa, mengetuk pintumu. Lalu dengan segala mulut gombalmu, kau akan berkhotbah pada mereka tentang devinisi cahaya. Bahwa cahaya tak pernah mempertimbangkan apapun untuk menuntun hati seseorang pada seseorang yang lain sesuai keinginananya. Kalau itu dianggapnya perlu bagi sang cahaya, tak ada yang tak mungkin. Begitukah?

Kalau itu yang kau teriakan, bolehkah aku bertanya padamu? “Berapa hargamu…..?” Sampai dia mau mendatangimu. Betapa supernya besar kepalamu hari ini. Seungguhnya kau tak perlu membual apapun untuk kasus seperti ini. Cukup kau diam, diam dan diam, nikmati saja setiap lagu yang terlantun.

Malam-malam yang selalu melarut, tak hanya pada gelap tapi
Larik larik huruf yang semakin panjang
Misteri cahaya yang tersembunyi di balik misteri
…………………….

( moga masih mampu buat nulis seri berikutnya……..)

Srandakan 9 desember 2009

Tentang cahaya itu #7
12 Desember 2009 jam 11:26 | Sunting Catatan | Hapus

;Dia bicara untuk kau, dia juga mereka

Kalian tak akan tahu dan tak akan pernah jadi tahu. Kalian tak akan mengerti dan tak akan pernah jadi mengerti. Tentang aku yang tetap menjadi aku tak akan pernah jadi yang lain. Meski pada akhirnya yang selama ini kau sangkakan cahaya akan berubah bara padamu.

Mungkin kalian bisa melihatku dan mengatakan bahwa itu adalah aku. Tapi sungguh, kalian tidak melihat aku. Kalian bilang pernah melihatku tertawa, melihatku mengumpat. Kalian bohong dan sungguh sungguh bualan. Bahkan jika kau bilang pernah sakit hati karena aku. Kembali kau sedang memfitnahku. Karena tak pernah aku punya niat sekejam itu. Kau merasa sakit karena pengaruh dari dirimu sendiri yang merasuk dalam diriku. Dan itu bukan perbuatanku. Tapi dirimulah yang melakukan dan mempengaruhiku.

Kau yang terlolong mungkin mengatakan betapa eloknya diriku, betapa mempesona, betapa sempurna. Sehingga timbul rasa untuk memilikiku. Rasa iri untuk menjadi seperti aku. Sungguh, kau salah besar! Apa yang kau lihat hanyalah bungkus. Kalian tak sungguh-sungguh melihatku yang aku. Betapa pedih perih menggelinjang tiap hari. Betapa nelangsa diam dan tak ada yang mampu mengobatiku. Kau, dia juga mereka tak akan pernah mampu menjadi aku. Aku yang sunguh-sungguh sakit tanpa obat yang tersedia, selain menahan dan terus menahan. Jika kau bilang mampu menjadi obat bagi sakitku, tutup mulutmu dan kembalilah tidur. Aku tak akan mampu di sembuhkan oleh siapapun. Hanya aku yang mampu menyembuhkan diriku.

Lantas jika kau bertanya kapan aku sembuh. Kelak jika aku telah menemukan yang lain dalam aku. Aku yang bisa mengerti aku dan aku yang sungguh-sungguh aku butuhkan. Jadi jelas apa yang aku butuhkan. Bukan kau, dia atau mereka tapi aku…aku yang lain. Aku yang belum kutemukan sampai hari ini. Aku yang mungkin belum terlahir. Aku yang mungkin masih tersesat di jalan. Tapi sungguh, itulah yang aku tunggu sampai hari ini. Untuk mengajariku tertawa yang sungguh sungguh tertawa, bukan tawa palsuku selama ini. Untuk mengajariku merayu secara benar bukan rayuan gombalku selama ini.

Inilah aku dan sekali lagi aku bilang, kalian tak akan pernah melihatku sebagai aku yang sesungguhnya. Jika kau bertanya padaku, akupun akan bilang bahwa aku belum seutuhnya mengenal aku. Entah apa sesungguhnya diriku. Entah apa yang diinginkan diriku. Aku hanya menunggu sampai tanda itu datang. Tentang siapa sesungguhnya diriku. Tentang apa yang di butuhkan diriku. Agar kau lihat sesungguhnya yang cahaya dalam aku.

Srandakan 12 desember 2009
( Inspirasi dari percakapan selepas subuh )

Itulah catatan-catatan itu, yang telah terposting di Facebook! Benarkah itu semua kebenaran untuk di percayai…..??? Sebuah harapan besar tentunya jika itu sungguh kebenaran. Tapi….tidakkah aku sedang berbohong dan kau pun berbohong..??? Sebuah pertayaan yang wajar untuk hadir hari ini. Selepas hujan yang begitu deras. Semoga sehabis hujan reda di balik rekahan mendung masih mau sang mentari menyapa dengan lembut cahayanya memberi terang….!
Ahhh…mbuh lah….mumet aku…..!!

2 Komentar »

  1. wawan berkata,

    Wah gak ngira koe ki ternyata cowok romantis yg suka nulis cerpen/novel to kang Maryono..its oke! penampilanmu boleh punk tapi hati tetep aja pink..he3x..keep writing ya! patau bs jd andrea hirata jilid2..


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.