April 27, 2009

PUISI-karya masa lalu yang masih tersisa

Ditulis dalam Uncategorized pada 4:27 am oleh aryo yudistira

PUISI

BERCAKAP-CAKAP DENGAN CINTA

( Kado pernikahan buat seseorang yang tak sempat sampai…)

Berjalan sendirian berkelana di rimba makna. Letihku gigilkan semua pori-pori. Akhirnya tiba juga aku di lereng imajinasi. Hamparan danau jiwa terlihat bening, tenang tanpa riak. Kuceburkan diriku untuk menghilangkan semua penat. Menyelamlah aku cukup dalam ke dasar. Di lubuk jiwa inilah akhirnya ku bisa temui sahabatku. Dia bernama “Cinta” dan aku biasa memanggil dia Cin. Tak setiap saat aku bisa menemuinya. Dia datang dan pergi begitu saja tanpa pamit dan permisi.

“Cin! Bolehkan bertanya banyak tentang dirimu? Aku ingin lebih mengenalmu!”

Cinta hanya mengangguk sambil membetulkan posisi duduk disampingku. Walau tertutupi hijab atau cadar hingga aku hanya bisa melihat sorot matanya yang teduh,tapi aku bisa menduga tentu dia sedang tersenyum manis dengan takik lesung pipitnya!

“Cin! Bolehkan aku tahu berapa umurmu?”

“Usiaku tak terhitung lagi sebab aku lahir bersama lahirnya alam semesta ini. Ketika bumi ini keluar dari rahim aku adalah ari-arinya. Asal kau tahu, aku ini lebih tua dari Adam! Apa yang kau lihat semua di dunia ini adalah hasil perananku.”

“Cin! Bolehkan aku tahu siapa yang memilikimu?”

“ Aku menjadi milik Sang Maha Pencipta. Dia menciptaku untuk melembutkan semua kekerasan kehidupan bumi. Aku adalah saos penyedap untuk semua rasa.”

“Cin! Kenapa kadang ada orang yang mengaku memilikimu dan kadang menyerahkan pada orang lain?”

“ Itu sebagai bukti dari bodohnya kaummu! Padahal aku tak bisa di miliki atau bahkan di serah terimakan. Tangan-tangan kalian tak cukup menampung besarnya diriku. Justru akulah sebenarnya yang menggerakan dan mengarahkan kalian jika aku mengganggap kalian berguna bagiku.”

“Cin! Apa sesungguhnya yang jadi kebutuhanmu?”

“Kamu tak perlu tahu! Apa yang aku lakukan adalah untuk memenuhi kebutuhanku. Aku bisa memenuhi kebutuhanku sendiri tanpa perlu bantuan siapapun. Aku adalah kemandirian sejati.”

“Cin! Sungguh aku ingin tahu itu agar kamu mau tinggal bersamaku!”

“Aku adalah kejujuran, aku tak bisa kalian suap! Aku akan tinggal bersama salah satu dari kalian itu atas kemauanku sendiri. Kalian tak bisa merayuku apalagi memaksaku. Aku akan datang atas pertimbanganku sendiri.”

“ Dan untuk dirimu!” kulihat mata Cinta nyalang menatapku,” Kau sulit mengikatku, kamu terlalu egois dan tak bisa berbagi. Kamu terlalu sibuk dengan mimpi-mimpi yang tak juga terwujud, tapi kau tersesatkan oleh yakinnya pikiranmu sendiri.”

Ingin rasanya membantahnya dengan berucap “ Kesendirianku adalah pilihan dan setiap manusia bebas menentukan pilihan hidupnya.” Tapi gumpalan-gumpalan umpatan itu tetap tertahan di kerongkongan. Aku tak ingin dia marah dan berlalu pergi, padahal masih banyak pertayaan yang akan aku ajukan.

“Cin! Bolehkah aku tahu ditempat seperti apa kau mau tinggal dan singgah?”

“Aku bisa tinggal dimanapun di seluruh sudut dunia. Tapi Aku hanya mau singgah di tempat-tempat teduh yang penuh dengan kesejukan dan kedamaian, aku akan berlalu pergi pada tanah-tanah gersang. Karena aku hanya akan luruh pada kelembutan.”

“Cin! Bolehkah aku melihat wajah di balik cadarmu?”

“ Jangan! Matamu akan buta karena tersilaukan oleh pesona sinar yang memancar dari setiap pori-pori wajahku.”

Aku begidik, dan tak mencoba memaksa !

“Cin! Ijinkan aku menyentuhmu sebentar saja!”

“ Sudahkah kau punya kaos tangan khusus? Jika belum, jangan! Tubuhmu akan tersengat listrik yang bisa menghancurkan seluruh organ-organ tubuhmu. Tubuhmu baru aman tak apa-apa jika yang menyentuh adalah aku, tapi jika kau yang menyentuhku tanpa minta ijin dulu, tubuhmu akan terbakar dan jiwamu bisa hancur.”

Aku semakin begidik dan terbayanglah barisan korban cinta.

“Cin! Aku jadi ngeri. Benarkah sesungguhnya kamu ini penghancur?”

Mata Cinta meredup, mungkin dia tak suka dengan pertayaan ini. Tak juga keluar jawaban darinya hingga justru anganku melayang jauh pada kisah-kisah masa lalu. Bagaimana negara besar Ngalengka Diraja, harus hancur-lebur gara-gara cinta buta sang Rahwana pada Shinta. Kerajaan itu luluh-lantak oleh kekuatan ketulusan cinta Rama pada sang istri setianya, Shinta.

Kemudia kerajaan besar Majapahit juga harus runtuh oleh sebuah sayatan cinta. Walau seribu wanita cantik bisa di dapatkan oleh sang raja Hayam wuruk tapi cinta sejati sang baginda hanya pada Dyah Pitaloka. Maka ketika sang putri pujaan mati bunuh diri karena blunder besar sang maha patih Gajah mada, sang raja jatuh sakit dan meninggal. Kepahlawanan sang mahapatih dalam membesarkan kerajaan seperti tak dianggap lagi hanya karena kesalahan dalam memaknai Cinta sang raja. Dia harus terusir dari istana dan kerajaanpun mengalami kemunduran karena kehilangan soko guru.

“ Itulah sialnya aku, selalu disalahkan,” Akhirnya aku mendengar suara lirih jawaban darinya setelah cukup lama hening.“Padahal merekalah sesungguhnya yang salah karena tak bisa mengendalikan diri. Mereka tak bisa memaknai aku dengan sungguh-sungguh. Bahkan dulu Adam pun menyalahkanku ketika terusir dari surga, karena terlalu sayangnya pada sang istri, Hawa, dia bisa terbujuk rayu syetan hingga berani melanggar larangan Tuhan, hingga terusir ke bumi. Sudah takdirku menjadi kambing hitam.”

Cinta seperti terpukul dengan pertayaanku tadi dan beranjak berdiri.

“Cin! Kau mau kemana?” kataku ketika kulihat dia akan pergi.

“ Maafkan aku! Ada tugas yang harus kuselesaikan hari ini. Aku harus pergi! Ada sepasang anak manusia yang memesan jembatan padaku, mereka menikah hari ini.”

“Jembatan apa Cin?” tanyaku penuh tanda tanya besar.

“ Jembatan yang berfungsi untuk menghubungkan dua jiwa. Agar tak lagi ada batas diantara mereka hingga bisa hilir mudik saling mengisi kekurangan masing-masing. Jembatan itu berupa kain panjang menggantung yang ujung-ujungnya aku kaitkan pada dua tonggak cita-cita yang telah tertancap diatas kepala mereka. Kain itu aku tenun sendiri dengan mengambil benang dari serat-serat hati mereka.”

Aku tertegun! Ah ternyata sesungguhnya tugas Cinta itu mulia!

“Cin! Sebelum kamu pergi aku minta satu permintaan terakhir! Tolong buatkan jembatan terbaik dan terkokoh yang bisa kamu buat. Aku ingin jembatan itu tidak akan pernah runtuh sampai ujung usia mereka. Sampai ketika tangan-tangan Izrail menggandeng mereka, jembatan itu tetap tersambung.”

Cinta menatapku tajam mengangguk dan berlalu pergi meninggalkanku. Aku pandang kepergian Cinta dengan mata sayu. Dia datang dan pergi begitu saja tanpa aku bisa mengundang dan mencegah. Dia tak bisa diatur. Andai suatu saat dia datang itu bukan karena aku panggil tapi karena inisiatifnya sendiri. Aku terdiam dalam kyusuk doa, biarlah sementara dia pergi, pasti suatu saat aku bertemu lagi.

Dibawah atap VW ,Agustus 2006

Keagungan itu milikmu

Siapakah yang harus di sanjung?

Usaha kerasku dalam mendapatkanmu?

Koyak-koyaknya kulitku saat mengalahkan musuh?

Cucuran keringat dari seluruh pori-pori tubuhku, dengan kumpulun pundi-pundi harta yang aku peroleh?

Puluhan sajak cinta persembahan yang kucipta?

Bukan..!!!

Itu semua tak pantas mendapat tepuk-tangan dan sorak sorai.

Dengarkan!

Yang pantas mendapat sanjungan setingginya adalah dirimu

Saat pintu hatimu terbuka melihat kedatangannku itulah keagungan yang sebenarnya!

Keiklasanmu menerimaku dengan segala kelemahan yang membungkus adalah keajaiban yang layak dikagumi.

Terimalah semua persembahan mewah mereka karena aku tak layak menerimanya.

Hapus airmatamu, kau tak harus terharu

Karena kau memang pantas menerimanya.

Agustus 2006

KUINGGIN BICARA TENTANG ZAHRA

Fatimah Azzahra kau ketahui sebagai putri bungsu Rosululloh

Tapi aku ingin bicara tentang Zahra yang lain

Zahra yang begitu lembut menelusup relung hati

Zahra yang dengan sabar mengajari aku tentang makna sujud

Zahra yang menari-nari di altar impian indahku

Dibawa hati beku ini ke atas awan

Tunjukan bahwa bumi begitu indah tuk dipeluk

Tapi !!

Semua itu tak lama kawan….!

Aku tertipu…!

Ada sebilah pedang tajam dia sembunyikan dibalik senyum manisnya

Zahra manis itu telah berubah jadi monster berdarah dingin

Ujung pedang itu pelan-pelan menusuk jantungku, begitu halus hingga tak kurasa

Zahra tetap tersenyum bahkan semakin manis

Tak kurasa sakit, tak kulihat darah menetes

Tapi…! Tahu-tahu…!

Jantungku malas berdetak

Pandangan mataku kabur

Tubuhku oleng kehilangan keseimbangan

Aku terjatuh dari pucuk awan dengan tatapan dingin Zahra

“ mati kau “ kudengar sayup suara dari bibir mungilnya

Buuum!

Berdebam tubuh menghantam kerasnya bumi

Koyak-koyak tubuhku begitu juga hatiku

Matikah aku?

Tidak!

Ternyata tidak!

Masih ada sengal-sengal nafas di dada yang telah remuk ini

Masih ada nanar mata yang samar-samar melihat senyum Zahra

Begitu cepat kau berubah Zahra

Tak kulihat lagi kelembutanmu yang tersisa

Bahkan permintaan terakhirku pun tak kamu luluskan

Aku hanya ingin kau lempar ujung pedang itu ke jantungku sekali lagi

Biarkan aku mati

Jangan kau biarkan aku sekarat dan tersiksa

Zahra tak peduli dan berlarian diatas pelangi kelabu

Menjauh dari tatapan mataku yang semakin kabur

Pergilah !

Larilah ! teriakku.

Jauhilah aku sejauh jauhnya kau bisa

Kalau kau memang ingin aku tetap hidup

Tak ada lagi Zahra di pelupuk mataku

Aku tak ingin mengenangnya lagi

Tapi jangan katakan kalau aku membencinya

Jangan kau kira aku mendendam padanya

Masih ada doa untuk keselamatannya

Aneh !

Memang hidup ini penuh sesuatu diluar nalar

Dibalik lenguh sakit masih tersisa sedikit doa untuk bahagianya

Zahra !

Kau tak perlu tahu ini

Luluh-lantaknya hidupku

Hancur-leburnya impianku

Tak bisa menarik picu amarah dalam dada lembutku

Zahra ! zahra !

Teruslah terbang di pelangimu

Aku tak mau mengingat-ingat dosamu

Tapi dengarkan ketulusanku yang tersisa

aku tak bisa lupakan jasamu

Zahra benar-benar menjauh dan terus menjauh

Tak hiraukan lukaku

Tak peduli apa aku masih hidup atau sudah mati

Zahra telah di pondong sang pelangi impiannya

Bercengkarama diatas mega-mega beranda langit

Menuntaskan semua gejolak dan rasa

Mataku terpejam tak ingin melihat semua itu

Imajinasiku tersumpal

Tak ingin terbayang apa yang terjadi dengan desahnya

Zahra menikmati tawanya

Aku menikmati perih luka menyayat

Zahra memejam-mejam menikmati syurga dunia

Akupun memejam-mejam menahan sakit tak terperikan

Zahra mengejang kelojotan menuntaskan hajad mewahnya

Akupun kelojotan menahan puncak rasa sakit dari infeksi luka

Zahra tak lagi utuh

Dia telah terkoyak oleh legalitas sang naib

Legalitas yang jadi garis finis bagi rasaku

Legalitas yang mendudukan aku dipodium tanpa piala

Sampailah aku di ujung penantian panjang yang melelahkan.

Srandakan, agustus 2006

DI TEPIAN TELAGA LUKA

Gulita menerkam bagai rajutan jaring

Kala smua pintu hati terasa tertutup

Kala semua mata apiku tersa padam

Selesailah langkah jelajah hati

Diam membatu pada pintu besar yang tertutup rapat

Ribuan doa tak bermanfaat lagi

Tak ada setetes airmata tumpah

Sekelebat wajah begitu mudah hadir

Sekelebat wajah secepat itu menghilang menipu

Sesungging senyum seperti memberi rasa

Tapi secepat pula itu terhapus habis tak tersisa

Semua hanya tipuan fatamorgana.. bangsaaaaaat!

Kembali semua tetap pada kebisuan yang dalam

Pada ketentuan yang tak mungkin terelakan lagi

Hidup dengan hati batu mata terpejam bibir terkatup…!

Disebuah tepian telaga luka.

September 2006

PAGI BUTA 4 JANUARI

Saat pagi masih mendengkur di balik selimut

Saat matahari masih menggeliat malas

Dipaksa memanggul pacul

Mata merahku bukan karena kantuk

Basahnya mukaku bukan karena embun

Di tanah lapang bawah kamboja

Tafakur ku kuras isi kepalaku

Aku bungkus semuanya dalam mori putih

Aku ayunkan paculku berpuluh puluh

Kuingin lobang terdalam yang tergali

Kukubur bungkusan itu dengan urug hati

Ku siram dengan seember airmata

Banyak orang bilang cinta adalah tawa

Bagiku cinta adalah sedu!

Srasndakan januari 2006

TAWA DAN SENYUM

Tawa dan senyum! Kemarilah!

Masuklah kejiwaku

Bertenggerlah di bibirku

Sungginglah mukaku

Tawa dan senyum!

Renjanaku tak lekang menunggumu

Tertutupkah pintu hatimu

Tak bisakah aku kau maafkan

Tawa dan senyum

Kuingin kau hadir

Kau usir nestapaku

Kau sumbat lobang airmata ini

Tawa dan senyum

Telah lama aku tak menyapamu

Entah berapa lama aku tak bercengkerama denganmu

Kuingin sekali kau mau menemuiku

Srandakan,15 mei 2006

KEMBALI KUTEMUKAN TUHANKU

Telah lama aku terlelap

Hanyut dalam buaian nafsu

Terperangkap dalam alam ambisi

Semakin jauh aku terbawa arus

Dan…!

Pagi itu aku tersentak bangun

Bumi mengguncang-guncang tubuhku

Mengocok-ngocok pikiranku

Sesuatu yang lama terendap

Mengambang di lapisan teratas

Kembali kuingat namaMU

Kembali kutemukan diriMu

Kelu lidahku menyebut takbir

Tersendat kerongkonganku melafalkan wirid

Doa-doa penyelamatan diri terus mengalir

Demi melekatnya nyawa

Srandakan, 9 juni 2006

PAGI BUTA 3 JANUARI

Dunia tercipta karena cinta

Dunia lebur karena cinta

Cinta adalah tawa

Tapi juga sedu

Pagi itu saat fajar masih gelap

Matahari mogok main, dunia pekat menghitam

Angin pingsan, tanpa desir

Ke hampaan menguasai

Lelaki tanpa kepala coba berpikir

Lelaki tanpa mata coba memandang

Lelaki tanpa telinga coba mendengar

Lelaki tanpa mulut lidah coba tertawa

Dalam kepalsuan, semua telah tertebas

Racun mimpi, sang algojo

Tertawa dia kata doa

Membisu dia kata haru

Tergelak dia kata sungkawa

Tuhan tidur pulas

DIA bangun kesiangan

DIA tak melihat apa-apa

Justru kaget saat melihat kepala jatuh di depanNYA

Srandakan januari 2006

TAKUTKU

Memang mataku sembab melelehkan air mata

Tapi itu bukan tangis untuk diriku

Juga bukan ketakutanku pada maut

Sebab aku tak lagi punya rasa takut pada kematian

Pagi itu ia telah menjengukku

Ingin mengajakku pergi,tapi Tuhan melarang

Tapi kenapa aku tetap menangis?

Aku takut anak-anakku tak lagi bisa bermimpi

Jerit kecilnya membuatku pedih

“ Pak, kepalaku sekarang tak lagi bisa untuk berpikir, ia hanya memerintah mulutku untuk melafalkan doa!”

aku takut impian indah mereka telah terenggut semuanya tak tersisa lagi

aku takut peta menuju taman masa depan tak lagi ada di tangannya

hingga membuat mereka menghentikan langkah karena tersesat

aku takut janji-janji yang berbusa-busa dari orang-orang berdasi itu tak terealisasi sampai ketelapak tangan lemah kami!

Srandakan, 16 juni 2006

JANGAN TANYA PADAKU

Kawan…!

Jangan tanya padaku

Tanyalah pada puing-puing rumah

Pada genteng-genteng yang berhamburan

Pada rekahan-rekahan tanah

Pada gundukan-gundukan yang masih basah

Kawan…!

Jangan kau tunggu apa yang keluar dari mulutku

Tak akan ada jawaban dan cerita

Mulutku telah terisi penuh isak dan erangan

Aliran sungai doa membanjir dari kerongkongan menuju mulutku

Tak lagi ada tempat buat cerita apalagi tawa

Kawan…!

Pejamkan matamu dan katupkan mulutmu

Ku tak ingin kau basahi matamu hanya untuk sebuah tangisan untukku

Ku tak ingin keluar isak hanya untuk sebentuk partisipasi bela sungkawa

Kawan…!

Ada yang kutunggu darimu

Saat lengan baju kau singsingkan

Kau angkat aku dari lembah kehancuran ini

Kau dudukan aku di tempat teduh

Kau tangkapkan kembali mimpi-mimpiku yang terlepas karena goncangan hebat sabtu pagi itu!

Srandakan, 15 juni 2006

AKU INGIN TETAP JADI AKU

( AKU VERSIKU )

Aku ingin jadi aku

Aku yang diriku

Aku yang bukan orang lain

Aku yang tetap aku

Aku tak mau jadi bayangan sosok lain

Aku tak mau berubah jadi bentuk lain

Ku cari dibawah celah-celah makna

Mengais-ngais di tumpukan mimpi

Menyelam kedasar kisah-kisah masa lalu

Aku tetap tak menemukan apa-apa

Aku hanya dapat rasa sakit

Benarkah sejarahku telah terputus

Benarkah sesungguhnya aku telah mati dalam hidup

Tidak…!

Aku tetap akan melangkah walau pelan

Mengharap jatuhnya takdir

Mencari makna tentang devinisi aku

Siapakah aku

Aku tetap ingin jadi aku yang diriku

Aku yang aku

Aku yang pertama kau lihat

Aku yang tetap berwujud aku

Inilah aku

Aku yang tetap aku

Srandakan,Medio 2006

TERSESAT

Lama sudah cinta ini aku lepaskan dari sangkar hatiku

Telah jauh dia terbang menyusuri sudut-sudut dunia

Mencari dahan terindah untuk berteduh

Menghilangkan risau dan gelisah

Sampai hari ini dia tak juga menemukan

Dia tersesat dan terperangkap

Pada kriteria dan referensi

Mati-matian dia ingin melepaskan diri

Tapi jerat itu begitu kuat menelikung

Cintaku tak lagi bisa terbang bebas

Menunggu tanganNYA melepaskan

Srandakan, mei 2006

SAAT SAYAP TERSANGKUT

Pelan terkepak sayap luka

Perih tertahan untuk sebuah harapan

Hembusan angin membawa ke atas mega

Melongok sudut-sudut dunia

Airmata sengaja ditinggal untuk sebuah tawa

Tapi…

Ternyata angin begitu kuat menarik

Membawa pada sebuah jaring berduri

Yang telah melukai

Sayap-sayap itupun tersangkut

Perih dan luka kembali terasa

Srandakan, april 2006

KIDUNG

Duhai bidadari jelitaku

Bersemayamlah di peraduan rusuk kiriku

Tebarkan senyum manismu

Semua rasa bahagia ke seluruh sudut lanskap

Sungging senyum alami illahimu

Hanya karena itulah sauh sampan cintaku aku lepaskan

Dayung aku kayuh secepat mungkin

Tak ada lelah dalam kayuhan cepat itu

Karena kuingin segera berjumpa denganmu

Bercengkerama dalam pelangi indah

Aku ingat saat pertam kali menemukanmu

Saat jilbab putihmu melambai-lambai

Srandakan, medio 2006

RISAU

Saat risau terus mengejar

Gigil takut menghadang

Langkah terengah

Di tepian senja

Gelap merayap semakin dekat

Kulihat pelitamu menawarkan

Gegas ku mendekat

Tapi nyala semakin redup

Aku takut padam tak tersisa

Ku tak tahu cara membesarkannya

Risau makin mengurung

Tak memberi jalan bagi langkah tuk meneruskan angan

Srandakan, 16 september 2006

SAAT AKU TEMUKAN KAMU

Hadirmu…

Adalah kayuhan dayung bagi sampanku

Yang telah lama melambat

Mematik api semangat yang hampir redup

Nyalakan asa bernyanyi di pulau impian

Pelukmu…

Adalah rintik hujan bagi kemaraunya hatiku

Rekatkan kembali rekahan-rekahan tandus

Kabari benih-benih rasa kembali tumbuh

Kekasih…

Pigura senyummu

Kupancang di bilik hati

Jadi pelita abadi

Pada langkah-langkah melanjutkan angan

Mengejar mimpi

Srandakan, september 2006

SAJAK GEMPA

Pagi itu

Bumi bergetar

Bangunkan jiwa-jiwa malas

Yang masih terlelap dalam kepongahan

Terjaga meeka dalam paniknya kehilangan mimpi

Mulut-mulut yang lama terkunci untuk takbir

Terngangga menyebut kebesaranNYA

Kumandang takbir bertalu-talu diantara isak

Dalam sujud kepasrahan

Mencium bumi yang telah lama hanya untuk kaki

Pagi itu

Semua mimpi pudar saat hari masih kuncup

Srandakan, juni 2006

SEPENGGAL KISAH YANG TERTINGGAL

Adakah yang lebih membahagiakan?

Selain saat itu, Kala lukisan wajahmu masih menari-nari

Meloncat-loncat diantara sajak-sajakku

Pilihkan abjad rangkaikan kata terindah pada bait-baitku

Adakah yang lebih menenteramkan?

Dibanding ketika itu, Kala suara lembutmu basuh mukaku

Tekuk lututku pada sebuah sujud

Ubah kelu lidahku pada doa, jadi fasih menyapa Tuhan

Adakah yang lebih menggoncangkan jiwa?

Kala semua itu tinggal jadi jejak yang tertinggal

Jadi masa lalu yang tak bisa aku datangi dan terulang

Tinggal serpihan-serpihan yang tak lagi bisa rekat

Adakah yang lebih memilukan?

Selain kata “maaf”mu ketika mengawali makna “tidak”

Runtuhkan semua anak panah yang terlanjur meluncur

Kabari semua gang menuju rumahmu jadi buntu

Adakah yang lebih bijaksana?

Selain sikap, Menipu diri demi sebuah kebangkitan

Rasakan “luka” sebagai “doa”

Kepalkan tangan bahwa kesendirian adalah pilihan

Srandakan 15 agustus 2006

SUATU KALI DIAMBANG PINTU SENJA

Telah jauh pagi aku tinggalkan

Menyusuri siang dengan segala rasa yang ada

Terbakar terik matahari

Tergores dan tersayat perdu-perdu berduri

Kini sampai aku diambang pintu senja

Matahari telah sembunyi dan kegelapan siap menggantikanya

Taring-taring malam siap mencabik-cabik tubuh lukaku

Dengan lorong kerongkongan gelapnya ia siap menelanku

Ragu aku bahkan takut masuk ke pintu yang menganga

Aku lupa meminta segenggam cahaya pada sang surya

Untuk menghadapi malam dan melumpuhkannya

Terhenti aku sendirian di ambang pintu senja

Adakah pagi selepas senja tanpa melewati malam?

Masih adakah mukjizatMU?

Seperti tongkat yang KAU berikan pada Musa

Tak sehebat itu, Aku hanya ingin mengulang pagiku!!

Srandakan 17 Agustus-2006

KEAGUNGAN ITU MILIKMU

Siapakah yang harus di sanjung?

Usaha kerasku dalam mendapatkanmu?

Koyak-koyaknya kulitku saat mengalahkan musuh?

Cucuran keringat dari seluruh pori-pori tubuhku, dengan kumpulun pundi-pundi harta yang aku peroleh?

Puluhan sajak cinta persembahan yang kucipta?

Bukan..!!!

Itu semua tak pantas mendapat tepuk-tangan dan sorak sorai.

Dengarkan!

Yang pantas mendapat sanjungan setingginya adalah dirimu

Saat pintu hatimu terbuka melihat kedatangannku itulah keagungan yang sebenarnya!

Keiklasanmu menerimaku dengan segala kelemahan yang membungkus adalah keajaiban yang layak dikagumi.

Terimalah semua persembahan mewah mereka karena aku tak layak menerimanya.

Hapus airmatamu, kau tak harus terharu

Karena kau memang pantas menerimanya

Srandakan, 19 agustus 2006

LAYAKKAH DI SEBUT IBU

Layakkah negeri ini di sebut ibu?

Dengan segala ketulusannya mengasuh

Kenapa masih terdengar erangan meraung-raung

Rintihan menyayat mengiris kalbu

Semua sudut tak lagi ada senyum-tawa

Gigil takut dikejar beringas

Mencari tempat teduh yang tak lagi ada

Semua menghardik dan menantang

Layakkah negeri ini di sebut ibu?

Jika tak lagi bisa di tetek

Air susunya pahit, terkena racun

“ Bu! Siapa yang telah menganiayamu?”

Srandakan, 11 September 2006

Perjalanan angan terperosok di kubangan

Kecipak kotornya air membasuh muka

Saat bias wajah memudar

Berlalu tinggalkan hati yang terlanjur berpaling

Sejak itu tak lagi ada cinta

Yang tersisa tinggalah nafsu

Walau ribuan wajah berhamburan menyerbu

Tak jua ada yang bisa tumbuhkan cinta yang terlanjur

Tak sisakan benih

Saat hasrat tersedot pada sebingkai wajah bening

Keraguan spontan menguasai

Cintakah yang hadir atau

Hanya sekedar nafsu dari kesepian

Srandakan, 3 november 2006

Saat nafsu yang bicara

Puluhan bibir merah menawarkan

Mengerdipan mata menggoda

Menarik sauh libido untuk merapat

Saat cinta yang bicara

Tak ada satupun yang

Membuat hati ini membukakan gerbang

Terkungkung dalam cangkang kriteria

Awal desember 2006-12-08

ApriLian

“Malioboro..pd sbuah ujung/

terik..tak kurasa terik/

sbuah asa mmayungiku/

ttg prjumpaan sbg jwb dr gumplan tny//

Akhiry…smua bgt terang/

saat 2 helai rmbt kpng 2 mypa/

skeping snyum trsaji/

tkbir brtalu2 /

wakilkn rs sykr/

ttng jwb rnjana pnjngku//

Jk Nil trpanjng d dunia/

rinduq akn prjumpaan ni adlh yg k 2″

(puisi dgn format sms, November 2008)

Kado buat ultah Ayu

“Sunggh…aq tak prnh mmint ato bhkn mnyurh/

tp dia sll mmbwku trs brtmbh/

kakiq brpindh dr 1 tangg k tngg brkuty/

tak kurasa smpe aq d tangg ke 19/

bgt bnyk lidhq mncecap aneka rasa/

tak trhitung brp wrn trsort nyla matq/

tp q sll mrs msh byk anak tngg yg ingn aq pijak/

msh ad warn yg lum aq lht/

jntung trs brdetak/

dan dadaku brgetar/

akn triak yg trthn/pd sbuah kredo usang//

ku tak akan brhenti d sini/

kuingn ttp trs mnpk naik/

pd ank tngg brkut/trus dan trs.//”

(puisi format sms,November 2008)

Hadirmu

adalah kayuhan dayung bagi sampanku yang lama melambat

mematik api semangat yang hampir redup

nyalakan asa bernyanyi di pulau impian

Senyumu

adalah rintik hujan bagi kemarau hatiku

rekatkan kembali rekahan-rekahan tandus

kabari benih-benih rasa kembali tumbuh

Kekasih

pigura senyummu

kupancang di bilik hati

jadi pelita abadi

pdaa langkah-langkah melanjutkan hidup

mengejar mimpi

Kekasih

hanya selembar jawab

dari batang kepastian

kau petik untukku

Kutunggu dan terus kutunggu…!

2008

Nyante.....ah cari inspirasi!

Nyante.....ah cari inspirasi!

4 Komentar »

  1. Riena berkata,

    CINTA…
    Hupf..apa artinya?!
    Tak cukup hanya dengan cìnta membuat kekasih setia..
    Nyatanya,,cinta membuatku kecewa,haruskah aku percaya cinta?
    Tapi,,jg tidak bisa merelakan cinta hilang..

    • yudistiraningwong berkata,

      CINTA……tak mungkin bisa kamu arahkan kemana dia mau hinggap dan bernyanyi untukmu. dia akan datang sesuai dengan kehendak hatinya sendiri. berjalanlah terus biarkan kelak dia yang akan hadir untukmu pada saat dan situasi yang tentu indah…! good luck!
      Rien….thanx ya mo ngasih komentar ke blogku. dah gabung facebook lum…?

  2. Theresia hardy berkata,

    Puisi tentang cinta emang nggak akan ada habisnya. Aku sendiri mengakui tidak bisa hidup tanpa cinta. Semua aktifitasku selalu aku lakukan dengan cinta…tanpa cinta hidup terasa hambar, tanpa rasa. Tapi aku bukan orang yang mudah jatuh cinta…mudah iba, mudah menyayangi…tapi tidak mudah mencintai.
    Kali ini aku mengejar cinta sejati yang kata orang terlalu bodoh buat aku kejar…
    Cinta mengalahkan akal sehat…dan itu gregetnya…hidupku jadi penuh warna tidak melulu hitam putih doang.
    Cinta…kamu membuat hari- hariku indah seindah pelangi di sore hari…tapi juga kalaulah yang buat sendu biru hati ini menjadi melon, mendayu-dayu….
    Mas Aryo…trims buat inspirasinya tentang cinta…sukses selalu.

    • yudistiraningwong berkata,

      waah..makasih mbak yanti dah mo nyepetin berkunjung…! ya begitulah kisah masalalu saya…hehehehehe
      itu aku posting catatan baru…di tengok ya…hehehehehehe


Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.