Februari 22, 2011
Catatan sore tentang perjalanan
Dunia maya is dunia maya, tapi sepertinya dengan berjalannya waktu, terjadi pergeseran yang signifikan. Dunia maya, dalam artian pergaulan via internet adalah dunia nyata baru. Kita bertemu banyak sekali sahabat-sahabat baru, bertukar pikiran menjalin relasi. Facebook adalah jejaring yang paling fenomenal dan dahsyat dalam memopulerkan pergaulan dunia maya. Begitu dimudahkan kita mencari sahabat baru melalui akun kita di jejaring social ini. tiap hari teman bertambah dan terus bertambah. Namun dengan banyaknya teman pada akhirnya seleksi yang tak disengaja terjadi. Hanya teman-teman tertentu saja yang menjadi akrab dan seolah telah menjadi keluarga baru.
Begitulah apa yang terjadi dengan diriku, dari seribu lebih list teman, tak ada 100 yang sungguh sungguh telah menjadi sahabat yang sebenarnya, tentu diluar teman-teman alumni dan teman-teman satu kampung. Persahabatan kita berjalan dengan demikian indah, kita bercanda, bersendau gurau layaknya anak-anak SMA. Dalam perkembangan berikutnya, tak hanya Via FB saja, namun juga dengan YM. Anganku melambung tinggi, melupakan pedihnya hidup. Aku seolah menemukan oase dalam perjalanan panjang yang begitu dahaga. Ini dunia yang aku impi-impikan, ada mimpi menyertai dalam perjalanan berikutnya. Ada tangan yang terkepal, ada motivasi yang seolah terbakar.
Di FB aku explore bakat yang tak sempat aku kembangkan. Mulailah aku kembali belajar menulis. Satu demi satu puisi asal-asalan aku posting, dan sambutan dari teman-teman membuatku sedikit besar kepala. Akupun semakin rajin saja menulis. Dalam perkembangan berikutnya, perkenalanku dengan seorang penulis cukup tenar, Herlina tiens suhesti / Gozhali punya peran yang teramat penting. Seolah beliau telah menjadi trendsetterku dalam gaya tulisan. Dulu aku yang takut-takut untuk sekedar meminta komentarnya, kemudian menjadi akrab karena sikap beliau yang begitu open dan semanak. Dari beliau juga aku punya sahabat-sahabat baru yang demikian penting dalam pergaulan di dunia maya. Salah satunya adalah Rika Prasetyanti. Pertama kali kenal aku pikir beliau adalah seorang penulis juga, namun ternyata bukan. Walau begitu, pribadi dia yang humoris, menjadikan jarak begitu semakin dekat. Kamipun bisa saling sapa tiap hari.
Selain mereka berdua , tentu saja masih banyak sahabat-sahabat dunia maya yang seolah telah menjadi keluarga baruku. Ada Bena, ada lutfie, ada ririe, ada ester, ada febe, ada Uly, ada Koto, ada Azzet, ada Yayan, ada Kika, ada Ajie, ada widhi, ada lina, ada mbak yantie, ada Al, ada rosana, ada roni , ada rizal, ada mamiz, ada ember, ada risa, ada qiqi ahh ternyat banyak juga masih ada yang lain tentu saja.
Ahh sahabat yang membuat aku melupakan sebentar dunia nyata, aku seolah punya arti disini, di dunia maya. Betapa sumpeknya hidup di dunia nyata, membuat mimpi yang tersaji di dunia maya menjadi air yang menyegarkan. Tak terasa satu tahun lebih waktu terus berjalan dan hampir menginjak tahun kedua kayaknya perjalanan dunia fesbukku. Dan ini adalah tahun-tahun dimana titik jenuh itu hadir. Ini juga mungkin bukti kevalidtan hukum Gossen itu. Tawa tak lagi serenyah dulu, canda tak lagi sesegar waktu itu. Bahkan masalah sering muncul diantara kita. Semacam konflik kecil-kecilan.
Sore yang begitu hening, ketika ide tulisan ini muncul ke permukaan kepalaku. Aku renungkan tentang hidup yang tak juga berubah selama dua tahun ini. Stagnasi yang demikian parah, tak kuasa aku tahan cairan bening yang sesungguhnya ingin jatuh.
Sia-sia…!! Ahh…perjalanan yang sia –sia! Mimpiku tentang dua naskah novelku pun tak juga terealisasi. Padahal dulu aku sempat berikrar, bahwa dua novelku inilah yang akan jadi tiket menuju hidup baru. Ahhh…! Aku terlampau besar kepala, aku tak bisa instropeksi diri. Tak ada yang perlu di persalahkan, semua salahku! Aku terlampau pemimpi.
Aku harus terus melangkah, life must go on!! Harus semangat walau hidup sungguh semakin berat. Sementara usia semakin pikun saja. Tak perlu aku merutuki kegagalan, yang aku juga tak mau menyebut itu kegagalan. Aku harus kembali berpijak ketanah. Tak seharusnya aku meletakakan seluruh hidupku di dunia maya. Aku harus bekerja! Aku harus fokus! Aku harus cari duiiiit….!
Februari 21, 2011
Aku sedih sore ini
Sore ini aku berkunjung ke wallmu, sekedar melihat foto-fotomu. Dorongan rasa kangen yang luar biasa besar yang tak mampu aku tahan. Entah kenapa ada rasa sedih yang tiba-tiba datang. Darimanakah rasa sedih ini? Pada perjalanan yang tak sesuai dengan yang diimpi-impikankah? Ataukah dari sesuatu yang tersembunyi dari balik fotomu? Sepertinya pilihan kedua yang membuat mata ini merah. Bolaeh saja kau bilang aku lebay dan terlalu menduga-duga, tapi sungguh ada satu foto yang membuatku tertegun. Foto yang seolah menceritakan semuanya. Foto yang tak mampu aku sentuh walau sekedar satu jempol sekalipun. Aku hanya terdiam tak bergerak dengan ribuan prasangka setelahnya. Dan sungguh, ada cairan bening di sudut mataku!
Benarkah apa yang terlukis di foto itu? Tentang derita yang kau tahan? Tentang rasa sakit yang tak bisa kau ceritakan pada siapapun. Aku sedih, sebab aku tak mampu menolongnya, jika itu benar. Aku tak diciptakan menjadi manusia yang kau impi-impikan. Aku lelaki yang jauh dari sempurna. Aku sedih sungguh aku sedih, jika derita itu benar.
Masih kujaga rasa ini, walau semakin lama waktu berjalan semakin saja kemungkinan itu kecil. Aku masih ingin terus menjadi tolol, dengan sabar menunggu peluang terkecil itu. Aku hanya mampu berdesis dengan doa, semoga kau selalu baik-baik saja! Amin!

Juli 15, 2010
Semacam Dongeng ( Embrio, jikalau mungkin ) * telah aku posting di FB
Langit masih biru seperti dulu, batu masih tetap hitam seperti saat waktu belum berjalan. Lelaki itu tersandar di dindingnya, membatu serupa batu. Jikalau bukit dan tebing itu punya cermin, mungkin lelaki itu pangling dengan wajahnya sendiri. Tak ada lagi yang hitam dari semua bulu dan rambut yang tumbuh disetiap sisi tubuhnya, semua memplak putih layaknya bulu angsa.
Di seberang tebing, dengan pembatas jurang yang begitu dalam, sosok yang tak jauh beda sedang bersandar pada pohon cemara. Seorang wanita yang juga telah putih rambut yang begitu panjang terurai. Dari keriput wajahnya masih terlihat garis-garis kecantikan masa mudanya dulu. Dia masih terdiam memandang di seberang jurang pada sang lelaki yang masih juga terdiam. Bisu. Sebisu dua sisi-sisi tebing yang tak juga mau merapat sepanjang penantian mereka.
50 tahun yang lalu…
“Aku mencintaimu walau jurang begitu curam dan lebar memisahkan tubuh kita.” Kata si lelaki dengan lantang, seolah penyair yang sedang beraksi diatas panggung.
“Apa buktinya kau mencintaiku jika kau masih bertahan dan berdiam disitu. Mana usahamu untuk sekedar mencium keningku?” timpal si wanita tak kalah lantang dari seberang jurang.
“Aku sedang berpikir dan menimbang tentang seberapa tajam batu-batu lancip di bawah sana. Sedang aku imajinasikan bagaimana rasanya jika aku gagal meloncat dan jatuh ke bawah.”
“Kenapa harus meloncat? Dimana kepalamu? Masihkah itu bisa di gunakan untuk berpikir? Kau bukan kuda ataupun leopard, kau manusia, kau pangeranku yang setiap detik aku tunggu kehadiranmu. Carilah jalan dengan isi kepalamu!”
“Lantas kenapa kau yang selalu menuntutku? Bukankah kau punya kursi lontar, sekali sentuh kau telah ada di tempatku?”
“Sebab aku tak ingin meninggalkan tanah yang selama 30 tahun telah memberiku hidup. Aku mencintai setiap biji batu dan setiap batang pohon pulau ini, aku tak mungkin meninggalkannya! Sedang kursi lontar ini tak mungkin aku bawa ke tanahmu, aku tak lagi bisa kembali kesini jika telah sampai ditempatmu!”
“Kau egois! Dimana letak devinisi cinta yang kau banggakan dan membuat seluruh hari-hariku menjadi siang itu? Bukankah omong kosong?”
“Kau beri nama apa setiap waktu yang aku habiskan di bibir tebing jurang ini? Bukankah hanya satu tujuan demi untuk melihat dan bercakap dengan dirimu? Tak layakkah ini dinamakan cinta?”
“Kau cukupkah hanya dengan bercakap kita telah syah sebagai pasangan kekasih? Dimana jalan menuju istilah suami istri?”
“Kenapa kau bertanya padaku? Bukankah itu lebih tepat di alamatkan padamu? Kau lelaki!”
“Lelaki? Aku? Stempel inikah yang membuatku memanggul tugas?”
“Ya, tanpa penjelasan di belakangnya!”
Lelaki itu terdiam. Entah kehabisan kata atau telah lelah berdebat hingga memilih untuk mengalah. Angannya melayang jauh, pada tepi-tepi kemungkinan yang tak juga memberinya tawa.
Aku telah berusaha semampuku, bidadariku, tapi bukahkah boleh aku menjadi gagal. Tak juga aku temukan kursi lontar seperti apa yang jadi milikmu. Seandainya aku temukan kursi lontar seperti milikmu, tak akan serta merta aku meloncat ketempatmu, aku juga teramat mencintai tanah ini, bahkan aku telah bersumpah kelak mati dan dikubur di tempat ini.
Jurang ini terlampau dalam, kematian yang kelak menyambutku jika nekad meloncat demi cinta. Melupakan logika bukanlah bukti cinta tapi sinyal ketololan. Aku hanya mampu memanjatkan doa, dengan harapan turunnya jembatan tiban diatas jurang ini, keajaiban darinNYA!
Hari ini…( 50 kemudian)
“Bidadariku! Masih hidupkah kau di seberang sana?” tak lagi lantang suara lelaki ini, bahkah di sertai batuk yang berat seolah menekankan bahwa ajal tak akan lama lagi.
“Masih, pangeranku! Aku ingin kelak kita akan di panggil berbarengan, seperti Bhisma dan Amba, kita bersatu di nirwana.” Jawab si wanita dengan suara tak kalah lemah, masih di seberang jurang.
Srandakan 15 juli 2010
( Sebuah perenungan, terserah para pembaca menafsirkannya! silahkan di adili! )
April 4, 2010
Puisi cinta
tak mampu aku tahan
kembali menjilat mengunyah
mencecap dan menelannya kemudian
wahai puisi cinta yang seolah aku ceraikan
kau yang seumpama garnis
bagi segelas kopi pahit yang aku tawarkan
kaulah kilau bungkus kado
bagi tembelekku di dalamnya
betapa haus dahagaku
ingin kusegera berenang dalam sungaimu
menyelam mengambil kembali baitbaitku
diantara pasir dan kerikil
lantas
masih layakkah aku umbar busabusa mulutku
seumpama petikan dawaidawai hati
sedangkan tak lagi ada nyala dalam diri yang semakin lindap
percayalah
tak ada yang manis dalam diriku
selain gombal dan omong kosong
:persetan
dan
aku pertahankan diam
tak jadi menyelam
bertapa di tepian
sebagai kalah yang membanggakan
menepuk dada kejujuran
kelak disuatu siang yang tak berangin tak berterik tak berhujan akan ada suara lembut mengeja lima huruf di telingamu mungkin itulah aku yang telah bangkit dan memilihmu.
Srandakan 1 april 2010
Carcassonne..tu me manques #2
“Telah aku tahu dari sibuknya mataku menahan kedip. Bahwa kau rindu akan segeranya aku memelukmu. Seharusnya aku telah menikmati Soupe a l’oignon bersamamu. Tapi semua ini harus tertunda dan tak pernah aku tahu kapan aku berani beli tiket. Kenapa? Kenapa aku aku harus mengenalnya? Dia yang berbibir selayaknya cawan anggur. Dengan tetes-tetes manis yang tak pernah aku mampu untuk mengelak. Kenapa isi tempayan ini harus bercampur. Dan aku tak juga punya nyali untuk memilih dan memisahkan.”
Carcassonne
sungguh rinduku tak pernah gombal
aku rindu pada kau yang berhidung mancung
yang bermata cekung bertangan emas
usapan kuas diantara batukbatuk kecil yang berasap
telah aku titipkan mimpi padamu
tentang bendera yang kelak akan kita kibarkan di menara itu
setiap usapan kuasku adalah bayangan tentang pohon plum Lorraine
lezatnya keju Roquefort
sepotong kue Mousse au chocolate
dan juga mesranya tanganmu mengulurkan segelas glace
Carcassonne
masihkah kau mau menungguku
tentang janji yang kau bilang “tak akan pernah ada”
adakah maafmu jika kau tahu
bahwa aku yang justru menjadi curang
tentang air di tempayanku yang semakin penuh
karena dia yang hadir setelahmu
masih kujaga rasaku
tunggulah usahaku menyelesaikan dia
carcassonne… tu me manques
serindu manisnya buah ceri yang masih tertinggal diujung lidahku
srandakan 4 maret 2010
( sekedar berbagi tentang penggalan naskah…lama nggak posting note di akun ini)
*Soupe a l’oignon : sup bawang merah yang disajikan panas-panas dengan keju diatasnya
**Carcassonne (Prancis Selatan) adalah nama kota tua. Kota pusat seni dan budaya menyimpan sejarah yang tinggi bagi dunia. Kota ini disebut Ville Fortifiée, lantaran dikelilingi oleh dinding2 tebal dan kali kecil. 2000 th yg lalu kota ini bernama Colonia Julia Carcaso. Dinding2 kotanya awalnya didirikan pada zaman Romawi. Zaman dahulu daerah ini tempat yg strategis, karena perbatasan dari kekuasaan Raja Prancis, penguasa Toulouse dan penguasa Barcelone. Kawasan ini salah satu lokasi di dunia yang dilindungi oleh UNESCO, dan setiap tahun ada sekitar 3 juta turis yg melancong.
Kado buatku dewe
;300374-300310
akhirnya
kutanak sendiri hurufhurufku
pada tembikar ke tigapuluh enam
diatas tungku dimana bara seolah enggan nyala
tak sepantasnya lagi
ada tart ataupun tumpengan
sebab semua sudut meja telah penuh
akan bungkusbungkus kado tanpa nama
tak perlu di buka aku telah menjadi tahu sebelumnya
tentang apa isi kado
bukankah perban dan obat merah
tak perlu kalian malu
sebab memang itu yang aku butuhkan
Nda…
Cukuplah aku bermimpi menikmati Soupe a l’oignon di Paris bersamamu, kemudian pada malam yang berbunga itu kita ke Moulin Rouge berbagi tawa pada indahnya pertunjukan cabaret. Entah kapan menjadi nyata, tapi aku bahagia bisa melamunkanmu hari ini.
Tata…
Jangan bersedih aku telah berkhayal menikmati sepotong kue Mousse au chocolate di Eiffel bersamamu, kemudian bergandengan menyusuri Avenue de Champs Elysees mengagumi Arch de Triomph nya Napoleon Bonaparte. Lampu-lampu itu Ta, seperti riangnya hatimu.
Alissa..
Tak perlu sedih apalagi menangis jika hari ini tak mampu kau ajak aku ke Perth, namun hatiku telah menikmati bubur gandum Porridge, kemudian berkejaran di pasir-pasir pinggir Swan river. Dan bersama Marsha kita nikmati keindahan King’s of Park bertiga.
Zi..Niss..Rien..Vedh…..entah siapa lagi? Terlampau banyak sahabatku dan tak mampu aku sapa satu persatu. Aku bersedih dan sungguh-sungguh sedih tak jua mampu memberikan yang terbaik sampai perjalananku hari ini.
masih pantaskah tanganku terkepal
melanjutkan langkah yang mungkin terseok
sedang kalian semua bilang
sekarang adalah hitungan baru
lantas bagaimana yang kemarin
jika tak juga ada yang terbawa
sesungguhnya aku ingin menangis
tapi sayang tak ada ijin dari ikrarku sebagai lelaki
semoga tak disebut salah jika aku memilih diam
sampai kelak bias pelangi melintas menyapaku
satu
dua
tiga
benarkah ini langkah kakiku bukan khayalku
benarkah ini kedepan bukan mundur atau berputar
lihatlah aku terus bergerak
bukan mematung ataupun tidur
gelap melumuri malam dengan hitamnya
tangkai daun yang ke tigapuluh lima hampir jatuh
ombak laut biru terus bergulung ke daratan
tapi tepian tak sanggup menampungnya
dan aku tetap sendiri
Srandakan 00:00 30 maret 2010
Selamat jalan Zi…
Tak pernah aku rencanakan tentang tanggal dimana tangismu akan tumpah. Sebab akupun kelak juga akan mengiringi air yang mengalir itu dengan biji bening air mataku. Jika hari ini menjadi hari terakhir aku berhak menyebut namamu, bukanlah aku yang menginginkan. Tapi jika ini adalah pilihan terbaik dari sebuah tempayan airmata, lakukanlah. Boleh kau sebut aku salah, tapi jangan lupakan bahwa aku tak pernah menggandeng tanganmu, menyesatkanmu ke tempat ini. Suitan kelelawar malamlah yang memberi tanda, tentang dangau indah senda gurau.
Percayakah kau jika aku punya tangis buat berlalumu ini? Kau memang bukan air yang menggenang dalam tembikar hatiku. Tapi bukan hal yang salah jika telah aku tempatkan kau di tepinya. Belum selesai tugasku mengarsir lukisan senyum di lingkaran tepian mulutmu. Belum cukup waktu bagiku untuk menangkap ikan yang berenang-renang dalam danaumu. Lantas dimanakah letak pegas pelontar yang membuatmu jauh. Selama ini aku hanya menatah kayu hutan untuk kujadikan tongkat penyangga, bagi jalanku, ataupun untukmu jika kau bersedia.
Tak pernah aku lemparkan umpatan atas kepergianmu. Telah banyak yang kau beri untukku. Ada catatan jika kelak kau meminta imbalan dariku. Hanya sebuah sesal, kenapa kau tak tinggalkan secarik kertas dimeja depan. Sebuah alasan yang ingin aku tahu tentang putusnya tali ini. Hanya mampu kulihat punggungmu yang berdarah, sementara tak sekalipun wajahmu menengok ke belakang.
Bersama desir angin sore yang mengibas-ngibaskan rambut panjangmu, kutitipkan doa. Segeralah temukan ranting terbaik dari sisi-sisi jalan yang kau tempuh. Entah di kelokan mana, namun aku yakin kau akan menemukannya! Selamat jalan Zi….! Maafkan aku yang tak sempat membelikan bekal untuk kepergiannmu!
Dalam sepiku masih kukenang tawamu!
……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….
Srandakan 13 maret 2010
(Penggalan naskah!)
kidung sore saat mendung beranjak pergi
lelaki itu terbujur di balai-balai bambu
dengan penutup mata selendang warna biru
dia mencoba kembali untuk belajar nyenyaknya tidur
tapi mata telah menjadi keparat
ada gelegak untuk membawanya pada amarah
tapi kenapa lelaki itu tak juga bangkit
ternyata dia memilih untuk menangis
menghilangkan degup-degup yang mengusik nyenyak yang ingin dia raih
“ kenapa kau buat aku luka sementara cinta tak pernah lupa
aku tak punya niat mencuri dan memiliki
selendang ini hanya aku pinjam sementara
membantuku mengumpulkan angin untuk tungkuku yang lama padam
aku memilih selendangmu sebab aku mencintaimu
banyak selendang yang lain tapi terlanjur jiwaku menjatuhkan padamu
salahkah jika cinta yang menggerakakan tanganku
mengambil dan membawanya pulang
ada waktunya kelak aku mengembalikan
jika tungkuku sungguh-sungguh telah berkobar”
lelaki itu masih sibuk membendung sungai yang tak juga kering
mengalir dan terus mengalir tentang perjalanan yang dia coba ingat
tentang anyaman-anyaman batang daun ketela menjadi burung
juga lipatan-lipatan kertas menjadi pesawat terbang
“ aku mencintaimu karena itu hanya kau yang ada di pikiranku
aku mencintaimu tapi aku masih ragu apakah aku ingin memilikimu
sepertinya cukup aku memujamu dengan usapan-usapan selendangmu
ketika pagi membangunkanku menuju sore
sebab aku masih mengail tentang arti “mampu” yang tak juga aku temu
salahkah aku mencintai hanya untuk memujamu
sebab memilikimu, sepertinya aku tak mampu “
lelaki itu masih terbujur di balai-balai bambu
sebab hanya itu yang dia punya
selain jiwa untuk melanjutkan nafas
suatu sore ketika mendung telah beranjak pergi
srandakan 7 maret 2010
Carcassonne…tu me manques
Carcassonne
kuletakan ujung mataku di istanamu
menggelegak menggelinjang
surup diantara usapanusapan kuasku
baru namamu yang kusentuh dan kueja
tapi hatiku telah sampai
menari dan berdendang
pada kastilkastil tua
juga keretakereta kuda sepanjang tembok tuamu
teramat ingin kukibarkan kanvasku
pada pucukpucuk menaramu
hingga dunia sudi memandangku
menyambut
mengeja
mencatat namaku
Carcassonne
tunggulah aku menujumu
membedah gerbang bentengmu
dengan kanvas dan kuasku
lihatlah
betapa paletku penuh
akan butirbutir bening
airmata rindu padamu
Carcassonne
Ville Fortifiee
Colonia Julia Carcaso
tu me manques
“kekasih yang ingin selalu kau kupanggil sayang. Temanilah aku bermimpi mengunyah tanah kota itu. Kelak akan menjadi mahar, dimana genggaman jari tak akan pernah menjadi renggang. Telah aku bukakan jendela untukmu diantara derai dan gemeretak gigi. Cukup kau nyalakan korek menyulut rokok dibibirku, tak perlu kau menangis walau itu haru.”
srandakan 3 maret 2010
* Catatan sederhana yang aku persembahkan buat teman baruku yang telah membantu hal teramat berharga bagiku…Agatha Caroline dan tak lupa juga buat Ester Natalita. masih aku butuhkan info info selanjutnya! mungkin catatan ini kelak akan aku masukkan dalam naskahku.
**Carcassonne (Prancis Selatan) adalah nama kota tua. Kota pusat seni dan budaya menyimpan sejarah yang tinggi bagi dunia. Kota ini disebut Ville Fortifiée, lantaran dikelilingi oleh dinding2 tebal dan kali kecil. 2000 th yg lalu kota ini bernama Colonia Julia Carcaso. Dinding2 kotanya awalnya didirikan pada zaman Romawi. Zaman dahulu daerah ini tempat yg strategis, karena perbatasan dari kekuasaan Raja Prancis, penguasa Toulouse dan penguasa Barcelone. Kawasan ini salah satu lokasi di dunia yang dilindungi oleh UNESCO, dan setiap tahun ada sekitar 3 juta turis yg melancong.
PALENTIN APAKAH
kenapa harus hari ini untuk berucap lima huruf yang telah lama tercipta sejak Adam mempertaruhkan surgaNya demi buah kuldi Hawa sementara hari terus berjalan mencipta pagipagi baru lantas disebut apa harihari yang kemarin bukankah masih tertinggal jejak tawa dan airmata di sana
aku ingin menyapamu dengan huruf baru
yang tak lagi peduli akan kata “YA” selepasnya
sebab
aku ingin mencintaimu dengan cara yang baru
seperti camarcamar yang menukik di laut biru
hanya kokohnya tebingtebing cadas yang memberi aplaus
lantas kau sebut apa
mendung yang menggantung demi payung terikmu
siulan malam pekat demi riangnya senyapmu
kalau bukan atas nama cinta
untuk apalagi kupangkas umurku
tak ada yang mampu mewakili cinta sayang
seindah apapun lekuk lukisan sepanjang apapun baitbait sajak
selain untain biji airmata
yang menjawab senyapmu di taman Argasoka
srandakan 14 februari 2010
( Rasa kangen atas sajak cinta tersalur harini pada hari Valentine…sajak apa adanya spontanitas aja buat siapapun teman teman…! Monggo dinikmati sajian ala kadarnya ini!)






